Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan kecaman keras atas kunjungan Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, ke Hargeisa, ibu kota wilayah Somaliland. Juru bicara kementerian, Ismail Baghaei, menegaskan pada hari Rabu, 7 Januari 2026, bahwa kunjungan tersebut berlangsung di luar kerangka hukum dan merupakan pelanggaran langsung terhadap kedaulatan serta integritas wilayah Somalia. Baghaei menjelaskan bahwa kontak resmi apa pun dengan entitas separatis bertentangan dengan aturan hukum internasional dan merusak tatanan global yang berbasis pada penghormatan terhadap kedaulatan negara. Ia memperingatkan bahwa langkah Israel ini menjadi preseden berbahaya yang bertujuan untuk memecah belah negara dan mengacaukan stabilitas kawasan.
Posisi Iran ini muncul di tengah gelombang kecaman regional dan internasional setelah pemerintah Israel pimpinan Benjamin Netanyahu secara resmi mengakui Somaliland sebagai negara merdeka dan berdaulat pada 26 Desember 2025. Langkah ini merupakan tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak wilayah tersebut menyatakan pemisahan diri dari Somalia pada tahun 1991. Pengakuan sepihak tersebut langsung ditolak oleh berbagai pihak, termasuk Liga Arab, Uni Afrika, Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), serta negara-negara seperti Mesir, Qatar, Arab Saudi, Pakistan, Tiongkok, dan Nigeria.
Sebagai respons cepat, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pada hari Rabu mengumumkan niatnya untuk mengadakan pertemuan menteri darurat pada hari Sabtu, 10 Januari 2026, di Jeddah, Arab Saudi. Pertemuan luar biasa Dewan Menteri Luar Negeri ini bertujuan untuk merumuskan posisi Islam yang bersatu dalam menghadapi upaya pembagian wilayah Somalia. OKI menegaskan kembali dukungan tetapnya terhadap persatuan kedaulatan Republik Federal Somalia sesuai dengan konvensi internasional dan resolusi PBB, yang tetap menganggap Somaliland sebagai bagian integral dari Somalia.
Senada dengan langkah OKI, Sekretaris Jenderal Liga Arab, Ahmed Aboul Gheit, menyebut kunjungan Gideon Sa’ar ke Hargeisa sebagai “upaya gagal” untuk melegitimasi pengakuan Israel. Ia menilai kunjungan tersebut sebagai pelanggaran mencolok yang dapat merusak perdamaian dan keamanan di Tanduk Afrika, Laut Merah, hingga Teluk Aden. Meskipun Somaliland telah berupaya mendapatkan pengakuan sejak jatuhnya rezim Mohamed Siad Barre pada 1991, Israel menjadi entitas pertama di dunia yang mengambil langkah pengakuan resmi tersebut, sebuah keputusan yang kini memicu konfrontasi diplomatik luas antara dunia Islam dan Tel Aviv.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: SABA



