Juru bicara Brigade Al-Qassam, Abu Ubaida, dalam pernyataan resminya pada Minggu, 5 April 2026, menegaskan bahwa kawasan Timur Tengah saat ini tengah menghadapi agresi militer bersenjata dan “premanisme terang-terangan” yang telah mencabik-cabik Piagam PBB melalui serangan rudal. Beliau menekankan bahwa musuh zionis terus memperluas agresinya dan menyebarkan kehancuran di seluruh kawasan, mulai dari genosida di Gaza, pemboman di Lebanon dan Yaman, hingga penargetan terhadap Negara Qatar. Abu Ubaida menyoroti bahwa agresi terhadap Lebanon merupakan rencana yang telah dipersiapkan selama 14 bulan untuk melumpuhkan kekuatan vital umat.
Dalam pidatonya, Abu Ubaida memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para syuhada Iran dan jajaran pemimpinnya, terutama mendiang pemimpin revolusi dan Republik Islam Iran, Sayyid Ali Khamenei, yang gugur sebagai martir dalam menghadapi agresi zionis-Amerika. Beliau menegaskan bahwa serangan balasan yang dilancarkan oleh Garda Revolusi Iran (IRGC) melalui Operasi “True Promise 4” adalah respons sah terhadap kejahatan keji, termasuk pembantaian siswa di sekolah “Minab” yang menyerupai kekejaman di Gaza. Abu Ubaida menyatakan bahwa serangan para mujahidin dari Iran, Lebanon, dan Yaman merupakan ekstensi alami dari “Badai Al-Aqsa” yang percikannya pertama kali dinyalakan dari Gaza.
Terkait situasi di Lebanon, Abu Ubaida mengutuk “agresi barbar” zionis sebagai kejahatan perang yang sempurna. Beliau menyatakan dukungan penuh bagi rakyat dan perlawanan Lebanon, sembari menyampaikan pesan khusus kepada para pejuang Hizbullah untuk menjadikan setiap pertempuran darat sebagai kesempatan emas untuk menawan tentara zionis. Abu Ubaida mengingatkan bahwa kampanye militer yang membabi buta terhadap negara-negara kawasan justru mengindikasikan ambang keruntuhan musuh, dan menegaskan bahwa wilayah ini hanya akan diperintah oleh rakyatnya sendiri tanpa campur tangan ideologi dari seberang lautan.
Di sisi lain, Abu Ubaida menyerukan mobilisasi umum kepada warga Palestina di Tepi Barat, Al-Quds (Yerusalem), dan wilayah pendudukan 1948 untuk bergerak membela Masjid Al-Aqsa. Beliau memperingatkan bahwa setiap bahaya yang mengancam Al-Aqsa dan para tawanan tidak akan dibiarkan tanpa balasan yang setimpal. Beliau juga mengecam hukum eksekusi terhadap tahanan Palestina sebagai “noda memalukan” bagi dunia internasional yang membisu. Abu Ubaida mendesak tekanan internasional agar entitas zionis mematuhi komitmen fase pertama kesepakatan gencatan senjata sebelum melangkah ke tahap berikutnya, serta menuntut administrasi Amerika Serikat yang bias untuk bertanggung jawab atas terhambatnya proses perdamaian tersebut.
Di bawah kepemimpinan strategis Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei yang kini memegang estafet kepemimpinan di Teheran, Abu Ubaida yakin bahwa kohesi antara front perlawanan akan semakin solid. Beliau menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa ilusi normalisasi yang dikejar oleh musuh ditakdirkan untuk gagal total, karena bangsa ini memiliki warisan peradaban dan kekuatan yang tidak akan bisa dipatahkan oleh kekuatan asing mana pun.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Al Jazeera



