Skip to main content

Surat kabar Ibrani Haaretz melaporkan bahwa elit keamanan dan politik Israel kini tengah memantau ketat perkembangan di Iran dengan keyakinan kuat bahwa gagasan untuk menggulingkan Revolusi Islam sudah sangat jauh dari kenyataan. Teheran dinilai telah berhasil mempertahankan kekuatan serta stabilitas sistem politik dan militernya meskipun digempur berbagai tekanan. Dalam beberapa hari terakhir, isu Iran mendominasi buletin berita dan program-program utama di media Israel, namun terjadi pergeseran sentimen yang nyata setelah jutaan rakyat Iran turun ke jalan pada Senin kemarin untuk mendukung Revolusi Islam serta menolak kekacauan dan campur tangan asing.

Program televisi The Israeli Eye menyoroti bagaimana para analis dan komentator media Ibrani terlibat dalam diskusi luas mengenai jalannya kerusuhan dan aksi terorisme di Iran. Mereka mengakui bahwa Israel dan Amerika Serikat berada di balik aksi-aksi tersebut, seraya menyiratkan bahwa rencana serangan langsung terhadap Iran kemungkinan akan ditunda hingga hasil dari tindakan teroris tersebut terlihat jelas. Pakar urusan Israel, Nabih Awada, dalam program tersebut memberikan perspektif analitis bahwa kampanye hasutan ini memiliki dampak luas pada skala regional dan internasional, di mana media Israel tampak mengesampingkan isu lain demi fokus sepenuhnya pada demonstrasi besar-besaran yang menyapu Iran.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa kejahatan keji dengan metode ala ISIS yang terjadi selama sepekan terakhir merupakan kelanjutan dari “perang 12 hari” yang telah direncanakan dan dieksekusi dengan tujuan melemahkan stabilitas keamanan Iran. Dalam pertemuan daring pada Selasa malam, 13 Januari 2026, bersama para duta besar Iran untuk Uni Eropa, Araghchi menekankan pentingnya misi diplomatik di luar negeri untuk mengklarifikasi posisi sah rakyat Iran kepada opini publik dan pemerintah negara setempat. Ia juga mendesak agar dunia diberikan gambaran yang jujur mengenai sifat teroris dari serangan yang menargetkan keamanan nasional Iran belakangan ini.

Selain membahas hubungan diplomatik dan layanan konsuler bagi komunitas Iran di Eropa, Menlu Araghchi menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pasukan keamanan dan kepolisian yang telah berhasil memulihkan ketertiban negara. Sementara itu, koresponden Al-Alam TV, Zainab Abdul-Jabbar, melaporkan kembalinya kehidupan normal di salah satu kota terbesar Iran, Mashhad al-Muqaddasa. Meskipun Makam Suci Imam Reza (as) diselimuti kain hitam untuk memperingati kesyahidan Imam Musa al-Kadhim (as), lokasi tersebut tetap dipadati ribuan peziarah dari berbagai provinsi di Iran serta dari negara-negara tetangga seperti Pakistan dan Afghanistan. Aktivitas ekonomi di Mashhad juga telah pulih, di mana toko-toko kembali dibuka dan dipenuhi oleh para pengunjung yang berbelanja tanpa rasa khawatir.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: EFE