Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa kemampuan mengubah ancaman menjadi peluang merupakan karakter terkuat yang melekat pada sosok Jenderal Qassem Soleimani. Dalam sidang terbuka parlemen pada Rabu, 31 Desember 2025, Ghalibaf menegaskan bahwa warisan pemikiran sang jenderal tetap hidup dan menjadi kompas yang sangat berharga bagi bangsa Iran maupun dunia internasional.
Dalam pidatonya, Ghalibaf menggambarkan Jenderal Soleimani sebagai ikon global dalam memerangi terorisme yang sangat dihormati oleh bangsa-bangsa tertindas. Beliau menekankan bahwa wafatnya Soleimani bukanlah akhir dari sebuah perjuangan, melainkan justru menjadi pemantik gerakan yang lebih masif dalam menyebarkan logika perlawanan ke seluruh dunia. Selama semangat perlawanan masih berdenyut di hati rakyat, aksi bela Palestina terus berkumandang, dan rezim Israel kian kehilangan kepercayaan di mata generasi muda dunia, maka gagasan besar yang ditinggalkan Soleimani akan terus abadi.
Ghalibaf juga menyoroti bagaimana nilai-nilai perjuangan Soleimani kini telah meresap jauh ke dalam jiwa pemuda Iran, menjadi cahaya pemandu dalam menghadapi apa yang ia sebut sebagai kesewenang-wenangan global. Soleimani dikenang sebagai sosok yang berani mengambil inisiatif di tengah situasi yang paling mustahil, berani melangkah maju saat yang lain ragu, dan mampu membuka jalan keluar dari kebuntuan politik maupun militer yang rumit.
Menyentuh isu dalam negeri, Ghalibaf mengingatkan bahwa mengadopsi semangat Soleimani berarti harus menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai prioritas tertinggi. Ia menegaskan bahwa mengatasi persoalan ekonomi masyarakat harus didahulukan, kepentingan nasional wajib berada di atas perselisihan antar-kelompok, dan persatuan Iran harus dijunjung melampaui segala perbedaan politik.
Pernyataan ini disampaikan dalam suasana peringatan kelahiran Imam Ali sekaligus memperingati momentum syahidnya Jenderal Soleimani bersama tokoh militer Irak, Abu Mahdi al-Muhandis. Pada 3 Januari 2020, sebuah serangan pesawat nirawak Amerika Serikat atas perintah Donald Trump menghantam kendaraan yang membawa komandan Pasukan Quds IRGC tersebut dan wakil komandan milisi PMF Irak di Bandara Baghdad.
Tragedi tersebut memicu ketegangan hebat yang hampir menyeret kawasan ke dalam perang terbuka. Jenderal Soleimani, yang saat itu tengah menjalankan misi diplomatik resmi ke Irak, akhirnya dipulangkan ke Iran dan dimakamkan di Kerman, diiringi oleh jutaan rakyat yang memberikan penghormatan terakhir bagi sang panglima.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Tehran Times



