Skip to main content

Kota Chabahar yang terletak di pesisir Laut Arab, di tenggara Iran, tengah bertransformasi dari pelabuhan dagang strategis menjadi pusat antariksa terpadu dalam sebuah proyek yang dinilai sebagai salah satu proyek teknologi paling ambisius dalam sejarah Republik Islam Iran. Basis tersebut, yang diumumkan oleh kantor berita IRNA dan Tasnim pada akhir September 2025, merupakan bagian dari rencana nasional untuk mengubah Iran menjadi “kekuatan peluncuran regional” yang mampu mengirim satelit sipil dan militer ke orbit geostasioner (GEO).

Menurut Fars News Agency, juru bicara Badan Antariksa Iran menegaskan bahwa “Pangkalan Antariksa Chabahar akan mampu meluncurkan roket pembawa satelit dari darat maupun laut, kapan pun sepanjang tahun.” Ia menjelaskan bahwa lokasi tersebut memiliki sudut kemiringan yang ideal, sehingga memungkinkan akses ke berbagai jenis orbit tanpa harus melintasi wilayah udara negara-negara tetangga.

Press TV melaporkan bahwa lokasi baru ini juga akan digunakan untuk pengujian mesin roket berbahan bakar cair dan padat. Fasilitas bahan bakar dan komunikasi di kawasan tersebut dinilai “mampu mendukung peluncuran wahana berat dengan muatan hingga dua ton.”

Dari pihak Rusia, surat kabar Izvestia menyatakan bahwa Moskow memandang pangkalan ini sebagai “lompatan kualitatif dalam kerja sama antariksa antara negara-negara poros Timur.” Chabahar disebut berpotensi digunakan di masa depan sebagai stasiun pendukung logistik bagi proyek-proyek Rusia-Iran di bidang pengamatan Bumi dan penginderaan jauh.

Sementara itu, surat kabar China Global Times menilai bahwa “apa yang dicapai Teheran membuktikan kemampuannya mengembangkan teknologi peluncuran antariksa dengan kemampuan sepenuhnya lokal.” Media tersebut menambahkan bahwa China “melihat keberhasilan pangkalan Chabahar sebagai langkah menuju keseimbangan baru dalam industri antariksa internasional yang selama ini dimonopoli Amerika Serikat dan sekutunya.”

Russia Today (RT) mengutip pakar antariksa Rusia Alexander Zakharov yang menyatakan bahwa “Iran telah melampaui tahap imitasi dan memasuki tahap inovasi,” serta bahwa Chabahar “menandai awal sejati dari program antariksa regional yang independen.”

Sebaliknya, sejumlah media Barat mengungkapkan keterkejutan atas cepatnya kemajuan Iran. The Washington Post menggambarkan pangkalan tersebut sebagai “kejutan strategis yang menempatkan Iran di antara sedikit negara yang mampu melakukan peluncuran ke orbit tinggi.” BBC menyatakan bahwa proyek ini “menegaskan keberhasilan Teheran dalam mengatasi keterbatasan teknis yang diberlakukan melalui sanksi Barat.”

Reuters melaporkan analisis dari pakar pertahanan antariksa Inggris Justin Bronk dari Royal United Services Institute (RUSI), yang menyebut bahwa “infrastruktur di Chabahar menunjukkan dukungan teknik dan industri yang maju, serta kemampuan mengintegrasikan teknologi sipil dan militer secara bersamaan.” Ia menambahkan bahwa perkembangan ini mengejutkan Barat karena dicapai tanpa ketergantungan langsung pada teknologi Barat.

Analisis yang dimuat majalah The Diplomat Asia menyebutkan bahwa Chabahar mencerminkan pergeseran dalam doktrin pertahanan Iran, di mana “konsep penangkal berbasis darat digantikan oleh konsep penangkal berbasis antariksa,” melalui pemantauan target-target regional dari orbit dan pengelolaan komunikasi militer yang mandiri. Majalah tersebut juga menilai bahwa lokasi maritim pangkalan Chabahar memberi Iran keunggulan strategis “serupa dengan posisi Florida bagi Amerika Serikat,” karena kemudahan peluncuran menuju garis khatulistiwa.

Di tengah euforia Iran, antisipasi Rusia dan China, serta keterkejutan Barat, Chabahar kini tidak lagi sekadar kota pesisir, melainkan simbol kebangkitan Iran sebagai kekuatan antariksa baru di dunia yang kian bergerak menuju militerisasi ruang angkasa dan kedaulatan teknologi.

Dalam laporan penutupnya pada Jumat, 3 Oktober 2025, surat kabar Inggris The Guardian menulis bahwa “jika program antariksa Iran terus melaju dengan kecepatan ini, Chabahar dapat berubah menjadi pusat peluncuran regional sebelum akhir dekade, dan berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan teknologi di Timur Tengah.”

Sumber berita: Al-Manar

Sumber gambar: Caspian News