Kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza kian memburuk setelah badai musim dingin melanda wilayah tersebut, memperparah dampak kehancuran masif akibat agresi Israel yang telah berlangsung sejak Oktober 2023. Pada Sabtu, 13 Desember 2025, otoritas lokal dan lembaga kesehatan melaporkan runtuhnya bangunan, terendamnya puluhan ribu tenda pengungsi, serta bertambahnya jumlah korban jiwa di tengah lumpuhnya infrastruktur dasar.
Wali Kota Khan Younis, Alaa al-Din al-Batta, mengatakan kepada Al-Mayadeen bahwa sekitar 170.000 warga pengungsi kini hidup dalam kondisi kemanusiaan yang sangat sulit setelah badai merusak tenda-tenda yang menjadi satu-satunya tempat berlindung mereka. Ia menjelaskan bahwa sekitar 10 persen tenda terendam air, sementara ribuan lainnya rusak parah dan tak lagi layak huni.
Al-Batta menegaskan bahwa krisis ini tidak bisa dipisahkan dari kehancuran sistematis yang dilakukan oleh pendudukan Israel terhadap infrastruktur Gaza. Menurutnya, tim kotapraja harus bekerja berjam-jam hanya untuk menguras satu genangan air besar, sementara puluhan genangan lain tersebar luas dan terus memperburuk penderitaan para pengungsi.
“Kami menghadapi krisis yang kompleks,” ujar Al-Batta. “Serangan terhadap infrastruktur telah melumpuhkan kemampuan layanan publik dan membuat kondisi kemanusiaan semakin tak terkendali.”
Di hari yang sama, Kantor Media Pemerintah di Jalur Gaza melaporkan bahwa jenazah 11 syuhada telah berhasil dievakuasi dari reruntuhan bangunan yang sebelumnya dibombardir Israel. Pencarian masih terus dilakukan terhadap setidaknya satu orang yang dinyatakan hilang, menyusul runtuhnya sejumlah rumah yang telah rusak akibat serangan udara dan kemudian roboh diterjang hujan deras serta angin kencang.
Dalam pernyataannya, kantor media tersebut mengungkapkan bahwa sedikitnya 13 rumah yang sebelumnya dibom Israel runtuh akibat badai. Selain itu, lebih dari 27.000 tenda pengungsi terendam banjir, sementara lebih dari 53.000 tenda lainnya rusak, yang secara langsung berdampak pada lebih dari seperempat juta warga pengungsi di seluruh Jalur Gaza.
Kerugian awal akibat badai ini diperkirakan mencapai 4 juta dolar AS, dengan dampak serius terhadap sektor hunian dan infrastruktur dasar. Kantor Media Pemerintah menegaskan bahwa pendudukan Israel memikul tanggung jawab penuh dan langsung atas situasi kemanusiaan yang sangat brutal ini, mengingat kehancuran luas yang disengaja terhadap bangunan sipil, sistem drainase, jaringan air, dan fasilitas umum.
Situasi diperparah oleh laporan Al-Mayadeen dari Gaza yang menyebutkan bahwa air hujan bercampur dengan limbah dan air kotor, menciptakan bencana kesehatan besar. Kondisi ini meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular, terutama di tengah kepadatan kamp-kamp pengungsian dan minimnya layanan kesehatan.
Wilayah-wilayah yang terdampak parah meliputi kamp-kamp pengungsi di Al-Mawasi, Khan Younis, kawasan Al-Bassa dan Al-Baraka di Deir al-Balah, pasar pusat Nuseirat, serta daerah Yarmouk dan pelabuhan Gaza City, di mana banjir melumpuhkan aktivitas warga sepenuhnya.
Di sektor kesehatan, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa dalam 48 jam terakhir, tiga warga Palestina gugur, termasuk dua korban yang baru teridentifikasi, sementara 16 lainnya mengalami luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit.
Sejak diberlakukannya gencatan senjata pada 11 Oktober 2025, jumlah korban syahid di Gaza telah mencapai 386 orang, dengan 1.018 korban luka. Sementara itu, total korban agresi Israel sejak 7 Oktober 2023 telah melonjak menjadi 70.654 syuhada dan 171.095 korban luka, mayoritas di antaranya adalah perempuan dan anak-anak.
Kantor Media Pemerintah Gaza menggambarkan kondisi di wilayah tersebut sebagai bencana kemanusiaan dalam arti yang sesungguhnya, seraya menyerukan kepada komunitas internasional untuk segera bertindak sebelum kehancuran yang tersisa berubah menjadi kematian massal yang tak terhindarkan.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Al Jazeera



