Skip to main content

Dalam beberapa pekan terakhir, telah terjadi berbagai hambatan dan rintangan yang ditempatkan Zionis terhadap perjanjian gencatan senjata yang dicapai di Jalur Gaza pada 10 Oktober, serta ketidaksediaannya yang jelas untuk menyelesaikan perjanjian itu dalam bentuk terbaiknya, atau setidaknya tidak memenuhi seluruh kewajiban seperti yang kerap terjadi dalam perjanjian-perjanjian sebelumnya.

Di antara hambatan tersebut adalah tidak dibukanya Penyeberangan Rafah di kedua arah sebagaimana tercantum dalam perjanjian. Kondisi ini membuat ribuan warga Gaza yang ingin ke luar negeri untuk berobat, belajar, atau bekerja tidak dapat mencapai tujuan mereka, sekaligus mencegah pulangnya puluhan ribu warga lain yang masih berada di luar.

Hambatan lain adalah tidak diizinkannya masuk bantuan pangan dan medis dengan jumlah serta jenis yang telah disepakati, yang menurut Kantor Media Pemerintah dan lembaga internasional maupun kemanusiaan, belum melebihi dua puluh persen dari yang telah ditetapkan. Selain itu, pergerakan impor yang dilakukan para pedagang di Gaza dibatasi pada tingkat minimal, dengan ratusan jenis bahan pangan dan komersial dilarang masuk, terutama yang dibutuhkan untuk pekerjaan perbaikan dan pembangunan, atau material untuk beberapa industri seperti pembuatan deterjen, peralatan plastik, dan lainnya.

Hambatan berikutnya mencakup pelarangan warga kembali ke rumah dan lahan pertanian mereka di area dekat Garis Kuning, serta pelanggaran batas garis tersebut di lebih dari satu titik, terutama di sebelah timur Kota Gaza, di mana perluasannya mencapai Jalan Salah al-Din, melebihi Garis Kuning lebih dari tiga ratus meter ke arah barat, yaitu menuju pusat Kota Gaza. Di wilayah ini setiap hari terjadi puluhan ledakan darat dan serangan udara untuk menghancurkan sisa rumah dan fasilitas di dalam atau dekat garis tersebut.

Situasi serupa terjadi di sebelah timur Kota Khan Younis di Gaza selatan, yang menyaksikan penghancuran, pembongkaran, dan peledakan terhadap sisa rumah penduduk, seperti yang terjadi di Gaza. Wilayah yang ditargetkan di Khan Younis ini mencakup lebih dari enam puluh persen luas kota, sementara sebagian besar wilayah lain di sebelah barat Garis Kuning telah hancur selama perang di Gaza, karena Khan Younis menerima porsi besar dari kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Rangkaian hambatan lain mencakup pelarangan pengaktifan dan perbaikan jalur air dari zona kuning, serta pelarangan masuknya peralatan untuk memperbaiki jaringan komunikasi dan internet, disertai pengurangan pasokan bahan bakar dan gas ke tingkat paling rendah. Semua ini terus dilakukan secara sistematis oleh pasukan pendudukan untuk menekan warga dengan segala cara yang memungkinkan.

Bertolak dari semua itu—dan lebih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan dalam ulasan singkat ini—Gaza tampak telah berhasil atau sedang dalam proses berhasil menggagalkan seluruh rencana dan upaya musuh. Gaza telah dan akan terus memecahkan lingkaran pengepungan yang coba diterapkan oleh pasukan pendudukan, setelah selama dua tahun penuh mampu mematahkan lingkaran api yang membakar seluruh sendinya, menjatuhkan seluruh proyek pemindahan penduduk Zionis, dan dengan kesabaran serta keteguhannya mampu mengatasi kondisi ketidakberdayaan yang melanda rezim dan masyarakat Arab maupun Islam, serta seluruh negara lain di timur dan barat.

Di bidang industri, meski pasukan pendudukan mencegah masuknya berbagai material dan kebutuhan dasar untuk mengembalikan kehidupan normal, warga Gaza mampu menutup sebagian kekurangan tersebut dengan mendirikan ratusan pabrik sederhana yang beroperasi dengan mesin buatan lokal dan kemampuan terbatas. Pabrik-pabrik ini dapat menggantikan sebagian material yang dilarang masuk, seperti beberapa jenis bahan pangan, deterjen, serta material untuk memperbaiki rumah yang rusak sebagian dan kini menampung puluhan keluarga.

Sektor transportasi dan komunikasi juga mencatat lonjakan signifikan dalam dua pekan terakhir, mengatasi banyak kendala termasuk kekurangan besar kendaraan dan truk—yang menurut beberapa statistik informal telah dihancurkan oleh pasukan pendudukan selama perang melalui pembakaran atau penghancuran dengan buldoser dan tank. Di samping itu, masuknya bahan bakar tidak diizinkan dalam jumlah yang memadai, sebagian kemudian digantikan oleh bahan bakar lokal yang diekstraksi dari limbah plastik, ditambah lagi minimnya suku cadang terutama ban yang rusak akibat kondisi jalan dan kerusakan yang disengaja pasukan pendudukan.

Sektor penting dan sensitif ini mampu memenuhi sebagian besar kebutuhannya dalam waktu singkat, sehingga meningkatkan jumlah kendaraan pribadi untuk angkutan penumpang. Hal ini mempermudah mobilitas warga antarwilayah Gaza hingga larut malam, terutama di area yang relatif jauh dari posisi tentara pendudukan. Sektor angkutan barang juga menunjukkan peningkatan, khususnya setelah beberapa pedagang Gaza berhasil memasukkan beberapa truk modern yang dibeli bersamaan dengan barang-barang yang dibawanya, seperti ponsel, panel surya, dan baterai.

Di sektor pertanian, upaya masih berlangsung untuk mengganti sebagian kehilangan dalam produksi pangan, sementara pasukan pendudukan masih menguasai lebih dari sembilan puluh persen lahan pertanian, terutama di timur Khan Younis, utara dan selatan Rafah, serta di Beit Lahia dan Beit Hanoun di barat laut dan timur Jalur Gaza.

Langkah pemulihan sektor vital ini masih berada pada tahap awal karena hambatan jauh lebih besar dibanding kapasitas yang tersedia, dan rintangannya sulit teratasi dalam waktu singkat. Namun sejumlah langkah seperti mengolah kembali lahan di area urban yang hancur menjadi lahan pertanian, memproduksi beberapa jenis pestisida dan obat tanaman, serta memperbaiki traktor dan mesin pertanian, membuat pemulihan sektor pertanian—meski sebagian—hanya soal waktu. Kondisi ini dapat membaik bila Penyeberangan Rafah dibuka dalam tahap berikutnya sehingga impor sayur dan buah dapat dilakukan lebih mudah.

Di luar industri, perdagangan, dan transportasi, sektor pendidikan juga mencatat kemajuan. Setelah otoritas terkait berhasil menyelenggarakan ujian kelulusan bagi kelahiran 2006 dan 2007 sebelum gencatan senjata berlaku—ujian yang tertunda dua tahun penuh akibat agresi dan penghentian total proses pendidikan serta hancurnya lebih dari 95 persen sekolah dan universitas—lebih dari sepekan lalu mulai dibuka sejumlah sekolah dasar swasta, baik di bangunan yang tersisa maupun di tenda yang didirikan di lapangan khusus, dan dalam beberapa kasus ruang kelas dibuat di kamp pengungsian di berbagai wilayah.

Sektor lain juga mulai kembali berfungsi, meski perlahan, termasuk sektor kesehatan yang menanggung beban sangat berat selama perang dan mengalami kerusakan besar akibat penghancuran sebagian besar rumah sakit dan pusat medis serta tewas dan ditangkapnya ratusan tenaga kesehatan. Namun dalam beberapa pekan terakhir sektor ini mulai pulih secara signifikan seiring menurunnya jumlah korban yang datang akibat berhentinya agresi.

Sumber opini: Al Mayadeen

Sumber gambar: MEMO