Skip to main content

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, Mayor Jenderal Sayyid Abdolrahim Mousavi, menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran berada dalam kesiapsiagaan penuh, baik secara intelijen maupun operasi, dalam situasi yang menurut para pejabat Iran menandai fase baru dari perang modern dan tekanan regional.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam peringatan Hari Mahasiswa Nasional di Akademi dan Institut “Velayat” untuk Komando dan Manajemen, yang berada di bawah Universitas Pertahanan Nasional Tertinggi Korps Garda Revolusi, di hadapan sejumlah taruna militer. Mayor Jenderal Mousavi menekankan bahwa perpaduan antara ilmu pengetahuan modern dan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa merupakan landasan utama kemampuan militer Iran. Ia menyebut para taruna sebagai pembangun masa depan angkatan bersenjata dan meminta para pengajar untuk menerapkan metode pendidikan, penelitian, dan perencanaan yang mutakhir agar angkatan bersenjata dapat mengikuti perkembangan teknologi global, terutama di tengah perubahan bentuk perang menuju pola yang kompleks dan kognitif. Kesiapan menghadapi perang modern, menurutnya, kini menjadi kebutuhan strategis, dan para mahasiswa harus mempelajari serta melatih skenario pertahanan baru agar Iran dapat mengambil langkah proaktif menghadapi ancaman potensial.

Sementara itu, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam, Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini, mengungkapkan bahwa Iran melumpuhkan kilang Haifa melalui dua serangan rudal selama perang dua belas hari, serta melakukan serangan terhadap pusat Mossad yang menyebabkan 36 orang tewas. Ia mengatakan bahwa balasan Iran dilakukan serentak dan diarahkan tepat pada lokasi yang sebelumnya diserang musuh, menegaskan bahwa Iran memiliki bank data intelijen yang lengkap dan akurat. Ia menjelaskan bahwa setelah pusat penyimpanan bahan bakar di Teheran diserang, Iran membalas hanya lima jam kemudian dengan menghantam kilang Haifa dua kali hingga fasilitas itu berhenti beroperasi. Menurutnya, jumlah korban militer dan keamanan Israel selama perang tersebut “jauh lebih besar” dibandingkan kerugian yang dialami Iran, dan ketepatan serangan udara serta luar angkasa Iran bersifat menentukan, termasuk serangan terhadap ruang bawah tanah gedung 32 lantai yang digunakan sebagai pusat data bursa saham Israel.

Brigadir Jenderal Naeini juga menyoroti perang informasi yang menurutnya digerakkan media Israel untuk membangun citra keunggulan intelijen dan dominasi udara, sementara Iran justru memiliki keunggulan udara, rudal, dan siber. Dalam perang siber yang berlangsung paralel, Iran menggagalkan lebih dari 400 hingga 500 serangan siber, di samping melancarkan operasi siber yang tidak diumumkan. Ia mengakui bahwa spionase adalah fenomena dua arah, menyebut adanya 60 kasus infiltrasi aktif Iran di wilayah pendudukan yang 30 di antaranya telah dijatuhi hukuman, serta menyinggung pengumuman media Israel terkait penangkapan kelompok pengumpul intelijen di dalam sistem keamanan mereka selama perang dua belas hari. Menurutnya, klaim Israel tentang kemampuan identifikasi target bukan berasal dari spionase manusia, melainkan dari teknologi seperti satelit mata-mata, drone, sistem peretasan, perang informasi, dan kecerdasan buatan.

Dalam perkembangan terkait, Menteri Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Pilot Aziz Nasirzadeh, menegaskan bahwa kemampuan militer, pertahanan, dan ilmiah Iran dalam perang dua belas hari menimbulkan kerusakan besar pada Israel sehingga memaksanya menerima gencatan senjata. Dalam pidatonya di Universitas Teknologi Malek Ashtar, ia menyinggung sejarah perlawanan rakyat Iran terhadap Amerika Serikat serta menilai Israel sebagai instrumen untuk menjalankan kebijakan Amerika di kawasan. Ia menekankan bahwa Republik Islam Iran adalah satu-satunya pihak yang mampu memberikan respons telak kepada Israel, dan menambahkan bahwa Israel tidak akan mundur dari wilayah yang telah dikuasainya kecuali dipaksa. Menurutnya, kerusakan besar yang dialami Israel dalam perang dua belas hari membuktikan kekuatan dan kapasitas Iran. Ia juga mengingatkan mahasiswa agar menjaga identitas keilmuan, bersikap kritis terhadap dua arus pemikiran yang berkembang—yakni glorifikasi Barat dan kecenderungan untuk meninggalkan kekuatan lokal—serta tidak larut dalam arus yang emosional. Ia memperingatkan adanya upaya musuh untuk menghapus identitas universitas dan mendorong mahasiswa untuk ikut memperkuat wacana utama negara, memahami potensi sejati Iran, serta berperan dalam mencerahkan masyarakat melalui pendekatan ilmiah.

Senada dengan itu, Komandan Pasukan Darat Korps Garda Revolusi, Mohammad Pakpour, menyebut perang dua belas hari sebagai perang teknis dan memperingatkan bahwa jika musuh mengambil tindakan terhadap Iran, respons yang akan diterimanya akan jauh lebih keras. Ia mengatakan bahwa musuh berusaha menjadikan perang tersebut sebagai perang hibrida, dimulai dengan serangan terhadap pusat komando dan rudal Iran, sementara kelompok teroris dan separatis menunggu momentum untuk menciptakan kekacauan di perbatasan. Dengan kembali menegaskan posisi sebelumnya, Mayor Jenderal Sayyid Abdolrahim Mousavi menyebut kesiapan Iran menghadapi bentuk-bentuk perang modern sebagai keharusan strategis, dan Brigadir Jenderal Naeini menutup dengan menekankan bahwa kemampuan rudal dan drone harus selalu dilengkapi dengan perang elektronik dan siber yang kuat, serta kerja ilmiah dan teknologis yang berkelanjutan di lembaga-lembaga riset dan universitas.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: ABNA