Hamas menyampaikan kecaman keras terhadap keputusan lembaga “Gaza Humanitarian Foundation” yang mengakhiri operasinya di Jalur Gaza, menyebut langkah tersebut sebagai akhir dari peran sebuah organisasi yang, menurut mereka, ikut andil dalam proyek genosida dan rekayasa kelaparan bersama pendudukan Israel. Hamas menilai organisasi itu gagal menghadirkan peran kemanusiaan dan justru menjadi bagian dari sistem kontrol dan keamanan Israel di Gaza.
Gerakan tersebut menuduh lembaga itu menerapkan mekanisme distribusi bantuan yang tidak manusiawi dan menciptakan kondisi yang mempermalukan warga yang kelaparan. Menurut Hamas, metode tersebut menyebabkan gugurnya dan terluka ribuan warga akibat tembakan sniper dan pembunuhan disengaja, sehingga menjadikan organisasi itu berperan dalam kejahatan yang mereka sebut sebagai genosida.
Hamas menyerukan agar lembaga hukum internasional dan pengadilan internasional mengadili organisasi tersebut beserta para penanggung jawabnya untuk mencegah pengulangan tragedi dan melindungi umat manusia dari bentuk terorisme internasional yang terorganisir.
Di sisi lain, juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menegaskan bahwa keberadaan delegasi gerakan itu di Kairo menunjukkan keseriusan Hamas dalam bekerja sama dengan mediator menuju fase kedua kesepakatan gencatan senjata. Dalam pernyataannya pada Senin, 24 November 2025, Qassem menjelaskan bahwa proses menuju fase berikutnya berlangsung rumit, namun Hamas telah memenuhi komitmennya sementara Israel terus melanjutkan pelanggaran dan pelanggaran tersebut berpotensi menggagalkan kesepakatan — sebuah pesan yang sudah disampaikan Hamas kepada mediator.
Qassem menambahkan bahwa kehadiran kekuatan internasional harus bertujuan memisahkan warga sipil dari tentara pendudukan yang masih melakukan agresi. Ia juga menyebut bahwa Israel melanjutkan perubahan situasi di lapangan, termasuk penghapusan garis kuning di dalam Gaza.
Pada Minggu, 23 November 2025, delegasi Hamas bertemu dengan Kepala Intelijen Umum Mesir, Hassan Rashad, di Kairo untuk membahas implementasi fase kedua kesepakatan serta situasi keseluruhan di Jalur Gaza. Dalam pertemuan itu, Hamas kembali menegaskan komitmen pada implementasi fase pertama dan memperingatkan bahwa pelanggaran berulang dari pihak Israel dapat mengancam keberlanjutan kesepakatan tersebut.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar:BBC



