Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi menegaskan bahwa Organisasi Mobilisasi Basij bersama Angkatan Bersenjata dan seluruh lembaga keamanan, intelijen, peradilan, serta pertahanan di Iran siap sepenuhnya memenuhi kebutuhan rakyat dan negara, serta menghadapi konspirasi musuh dan segala bentuk agresi terhadap rakyat Iran dengan ketegasan dan keberanian.
Dalam pesannya pada peringatan Pekan Mobilisasi dan ulang tahun dekrit bersejarah Imam Khomeini yang mendirikan Organisasi Basij, ia menyatakan bahwa tanggal 5 Azar (26 November) menandai keputusan visioner pendiri Republik Islam Iran tersebut dalam mendirikan kekuatan besar rakyat yang dikenal dengan Basij Mustadhafin. Ia menggambarkan Basij sebagai kekuatan berlandaskan iman, ketulusan, pengorbanan, dan pandangan strategis, serta aset peradaban bagi revolusi dan pemerintahan di berbagai bidang penting negara.
Ia menambahkan bahwa Basij merupakan “keturunan sah Revolusi Islam” dan wujud dari rakyat di dalam posisi sistem. Menurutnya, ini bukan hanya sebuah organisasi, melainkan budaya, pemikiran, serta sekolah perjuangan yang mengorbankan diri demi Islam dan prinsip Revolusi.
Mayor Jenderal Mousavi mengutip pernyataan pemimpin Iran Sayyid Ali Khamenei yang menyebut pembentukan Basij sebagai contoh sempurna mengubah ancaman menjadi peluang, karena lahir dari hati rakyat itu sendiri.
Selama 45 tahun terakhir, terutama pada masa-masa kritis, pasukan Basij memainkan peran kunci dalam menghadapi ancaman, menunjukkan keberanian dalam berbagai arena jihad dan pembelaan. Mulai dari perang delapan tahun Pertahanan Suci hingga bidang perang modern berbasis pengetahuan, pembangunan pascaperang, keamanan, kesehatan, dan ilmu pengetahuan, Basij dianggap berperan sentral.
Mousavi mengatakan bahwa di tengah kondisi saat ini ketika musuh berupaya mengguncang Iran melalui perang berlapis, mulai dari perang media hingga ekonomi dan psikologis, Basij mencerminkan kesadaran, iman, ketahanan, kemampuan mengenali musuh, serta kecerdasan rakyat Iran.
Ia menyebut bahwa dalam perang 12 hari menghadapi koalisi Amerika Serikat dan rezim Zionis, pasukan Basij kembali menunjukkan kekuatan rakyat Iran dalam membela prinsip Revolusi, keamanan, serta kemerdekaan nasional. Mousavi menyatakan bahwa kekuatan ini tidak hanya melindungi Iran, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi poros perlawanan di dunia Islam serta masyarakat tertindas lainnya.
Di akhir pesannya, ia menyampaikan penghormatan kepada para syahid Basij serta menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh anggota Basij dan rakyat Iran dalam rangka Pekan Mobilisasi. Ia menegaskan bahwa Basij bersama seluruh institusi keamanan nasional siap menghadapi segala bentuk ancaman, memperkuat pembangunan dan kemajuan, serta bertindak tegas melawan konspirasi musuh.
Sementara itu, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini mengatakan bahwa perang 12 hari membuktikan kemampuan misil Iran bersifat nyata dan menjadi faktor pencegah. Menurutnya, Amerika Serikat kini menyadari bahwa menghadapi rudal balistik Iran bukan perkara mudah.
Berbicara dalam acara Peacekeepers for Liberation, ia menyebut bahwa perang tersebut merupakan salah satu perang paling kompleks di dunia. Ia mengatakan bahwa kesalahan perhitungan musuh terhadap kekuatan Iran dan ketergantungan mereka pada kekuatan teknis menjadi faktor utama kekalahan mereka.
Naeini menjelaskan bahwa rencana lawan adalah memberikan pukulan cepat terhadap komando perang Iran dengan menargetkan empat tokoh utama militer Iran — Brigadir Jenderal Rashid, Brigadir Jenderal Bagheri, Brigadir Jenderal Salami, dan Brigadir Jenderal Hajizadeh — dengan asumsi bahwa hal itu akan menyebabkan kelumpuhan sistem pertahanan Iran dan membuka jalan bagi kekacauan internal. Namun, rencana tersebut gagal total.
Ia menyatakan bahwa musuh salah memahami sumber kekuatan Iran yang tidak hanya berasal dari sistem pertahanan, tetapi terutama dari rakyat. Menurutnya, musuh percaya pada gambaran “Iran lemah” ciptaan propaganda mereka sendiri, sedangkan dunia kini melihat “Iran kuat” melalui perang 12 hari tersebut.
Naeini menilai bahwa perang itu merupakan titik balik strategis karena menjadi konfrontasi langsung Iran dengan NATO dan Komando Pusat Amerika Serikat, serta mengubah peta kekuatan di Asia Barat.
Ia menambahkan bahwa perang tersebut merupakan ujian nyata kemampuan Iran dalam pertahanan dan serangan, serta ketahanan rakyatnya. Ia menegaskan bahwa sebagaimana pesan mendiang Jenderal Qassem Soleimani, perang menciptakan peluang dan setiap konflik menjadikan Iran lebih kuat.
Menurut sejumlah analis militer, perang tersebut kini dianggap sebagai garis pemisah dalam sejarah militer modern — antara sebelum dan sesudah perang 12 hari — karena dampaknya yang sangat besar terhadap doktrin perang global.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: ABNA



