Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan keberhasilan operasi angkatan laut yang sangat signifikan dengan menargetkan aset strategis Amerika Serikat di kedalaman 600 kilometer Samudra Hindia pada hari Rabu, 4 Maret 2026. Dalam keterangan resminya, IRGC mengonfirmasi bahwa sebuah kapal perusak AS, yang saat itu sedang melakukan pengisian bahan bakar dari kapal suplai sekitar 650 kilometer di lepas pantai Iran, berhasil dihantam secara presisi. Serangan tersebut menggunakan rudal jenis “Qadr 380” dan “Talaiyeh” yang memicu kebakaran hebat di kedua kapal tersebut, hingga dilaporkan kepulan asap hitam pekat menyelimuti langit di atas samudra. Operasi ini berlangsung bersamaan dengan pengumuman dari Markas Pusat Khatam al-Anbiya yang mengeklaim telah menargetkan 160 personel infanteri AS di Dubai, Uni Emirat Arab, dengan laporan bahwa 100 di antaranya tewas dalam serangan tersebut.
Pukulan terhadap kepentingan Amerika Serikat juga merambah ke sektor intelijen di daratan. The Washington Post melaporkan bahwa serangan drone yang diyakini berasal dari Iran berhasil menghantam stasiun CIA yang beroperasi di dalam kompleks Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh, Arab Saudi, pada hari Senin lalu. Meskipun pemerintah AS dan Arab Saudi hanya mengonfirmasi adanya dua drone yang menghantam kompleks kedutaan tanpa merinci target spesifik, mantan perwira CIA yang pernah bertugas di kawasan tersebut mengakui bahwa hilangnya stasiun ini merupakan gangguan operasional yang sangat serius bagi aktivitas intelijen mereka. Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi menegaskan kembali posisi Teheran bahwa serangan mereka tidak ditujukan kepada negara-negara di kawasan, melainkan khusus menyasar pangkalan dan fasilitas militer Amerika sebagai respons atas agresi terhadap Iran.
Di sektor pertahanan udara, IRGC mencatatkan keberhasilan besar dengan menembak jatuh drone canggih Israel, “Hermes 900”, menggunakan sistem pertahanan udara modern. Drone tersebut jatuh dalam kondisi utuh dan masih bersenjata lengkap sebelum sempat menjalankan misi penyerangannya, sehingga kini berada di bawah kendali Pasukan Dirgantara IRGC untuk diteliti lebih lanjut oleh para ahli dan insinyur kedirgantaraan. Keberhasilan ini menambah panjang daftar kerugian alutsista dan personel agresor dalam Operasi True Promise 4, di mana sebelumnya IRGC melaporkan bahwa serangan ke pangkalan-pangkalan Amerika di kawasan—termasuk di pangkalan Sheikh Isa Bahrain dan unit infanteri di Kuwait—telah menewaskan serta melukai sekitar 560 tentara Amerika.
Menanggapi perkembangan konflik selama empat hari terakhir, IRGC mengecam keras serangkaian serangan Amerika Serikat dan entitas pendudukan yang secara sengaja menargetkan fasilitas sipil seperti sekolah, rumah sakit, stadion olahraga, hingga pemukiman warga di kota-kota seperti Oshnavieh, Urmia, dan Kangavar. Serangan rudal “Tomahawk” dan rudal udara-ke-darat Amerika dilaporkan telah mengakibatkan lebih dari 700 warga Iran gugur, termasuk lima orang dalam satu mobil pribadi di kota Salman. Iran bersumpah bahwa kejahatan terhadap warga sipil ini tidak akan dibiarkan tanpa balasan dan menegaskan bahwa perang melawan Amerika Serikat serta Israel akan terus dilanjutkan ke tingkatan yang lebih dalam dan luas hingga seluruh pangkalan agresor di wilayah tersebut berhasil dilumpuhkan sebagai bentuk pembelaan atas syahadah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Shafaq News


