Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, menegaskan bahwa pengaruh dan kontrol Amerika atas Lebanon merupakan ancaman besar bagi kedaulatan negara itu, dan menyebut Washington sebagai pihak yang mendorong dan mendukung agresi Israel. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato peringatan satu tahun kesyahidan Haj Muhammad Afif al-Nabulsi dan para sahabatnya dalam apa yang disebut Hizbullah sebagai “Pertempuran Para Pemberani”.
Sheikh Qassem memuji peran media yang dijalankan al-Nabulsi, menggambarkannya sebagai sosok yang menggabungkan kedalaman budaya, ketajaman analisis, dan kemampuan menjalin hubungan dengan media lokal maupun internasional. Menurutnya, al-Nabulsi memberi warna tersendiri pada kerja media Hizbullah—menginisiasi konferensi pers beruntun untuk menjelaskan isu-isu yang tidak cukup dijabarkan lewat pernyataan pimpinan—sehingga narasi perlawanan tersampaikan jelas kepada publik dan lawan. “Mereka membunuh Haj Muhammad Afif karena ia berhasil memasarkan gagasan dan narasi perlawanan yang menunjukkan realitas Hizbullah,” ujarnya.
Sheikh Qassem memberi penghormatan khusus kepada empat rekannya yang gugur bersama al-Nabulsi—Musa Haidar, Hussein Ramadan, Hilal Tarmous, dan Mahmoud Al-Sharqawi—serta kepada para jurnalis dan aktivis media yang tewas karena mengungkap apa yang ia sebut kejahatan Israel.
Dalam bagian pidatonya, ia menyoroti insiden terbaru di perbatasan selatan Lebanon: pembangunan tembok oleh pasukan Israel yang melintasi Garis Biru dan mengakibatkan lebih dari 4.000 meter persegi wilayah Lebanon menjadi terampas, serta serangan menembak yang hampir mengenai pasukan UNIFIL. Menurut Sheikh Qassem, serangkaian pelanggaran ini menandakan bahwa agresi Israel kini menargetkan semua pihak—pasukan PBB, tentara Lebanon, dan warga sipil—dengan tujuan menggoyahkan stabilitas di selatan Lebanon.
Sheikh Qassem mengkritik keras pendekatan internasional yang, menurutnya, memberi pengakuan retoris atas hak Lebanon untuk melawan tetapi pada praktiknya mendorong negara untuk menyerahkan senjatanya dan tunduk pada tuntutan eksternal. Ia menekankan bahwa titik awal penyelesaian masalah harus berupa pertanggungjawaban Israel atas eskalasi dan pelanggaran, bukan menyalahkan perlawanan atau mengorbankan kedaulatan nasional demi “tunda dan kompromi”.
Mengenai kebijakan domestik, Sheikh Qassem meminta pemerintah Lebanon menghentikan kebijakan konsesi bertahap yang menurutnya tidak membawa hasil—seperti rencana pengendalian senjata yang pernah disetujui lalu direvisi—karena hanya membuka ruang bagi tuntutan lebih lanjut tanpa jaminan dari pihak seberang. Ia menyerukan persatuan nasional, menegaskan bahwa Hizbullah adalah bagian dari struktur negara dan menginginkan keberhasilan pemerintah dalam menjaga kedaulatan dan membangun kembali Lebanon.
Sheikh Qassem juga mengutuk apa yang disebutnya intervensi ekonomi dan politik Amerika sejak 2019, menyalahkan kebijakan asing atas runtuhnya ekonomi Lebanon—termasuk kejatuhan mata uang, krisis perbankan, dan tindakan yang menarget lembaga-lembaga sosial seperti Al-Qard Al-Hasan yang menurutnya memberi bantuan kemanusiaan lintas komunitas. Ia memperingatkan bahwa upaya memperketat sanksi dan membatasi lembaga sosial akan merugikan semua warga Lebanon, bukan hanya pendukung perlawanan.
Di ranah politik, Sheikh Qassem menyatakan penolakan atas upaya yang menurutnya bertujuan untuk melemahkan figur nasional seperti Ketua Parlemen Nabih Berri, dan mengkritik wacana modifikasi pemilu yang berpotensi menciptakan ketidakadilan bagi pemilih di dalam maupun luar negeri. Ia menegaskan pentingnya menghormati undang-undang pemilu yang ada agar prinsip keadilan dan kesetaraan terjaga.
Sheikh Qassem menutup pidatonya dengan menegaskan keyakinan bahwa persatuan rakyat, tentara, dan kekuatan perlawanan adalah kunci untuk mempertahankan hak Lebanon: pengembalian wilayah, pembebasan tahanan, stabilitas, pemulihan ekonomi, dan kedaulatan politik. “Kita tidak akan menyerahkan Lebanon kepada siapa pun,” katanya, menegaskan bahwa keteguhan dan solidaritas warga adalah jalan menuju kemenangan dan kemerdekaan.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Tehran Times



