Skip to main content

Sekretaris Jenderal Hezbollah, Sheikh Naim Qassem, menegaskan bahwa Hezbollah akan mempertahankan kekuatannya untuk menghadapi agresi Israel, menekankan bahwa serangan musuh “tidak dapat terus berlangsung tanpa batas.” Pernyataan ini ia sampaikan dalam peringatan Hari Syuhada Hezbollah, sebuah kesempatan yang juga menandai operasi syahid Ahmad Qassir — operasi pertama yang membuka era serangan martir dalam sejarah perlawanan.

Sheikh Qassem menjelaskan bahwa Qassir memilih jalannya dengan penuh kesadaran dan koordinasi bersama para komandan, termasuk Haj Imad Mughniyeh dan Haj Abu al-Fadl Karaki. “Mobil disiapkan, ia mengemudikannya sendiri menuju markas gubernur militer Israel, dan meledakkan dirinya sebagai penolakan mutlak terhadap pendudukan,” ujarnya. Ledakan itu menghancurkan gedung delapan lantai, menewaskan 76 tentara Israel dan melukai 118 lainnya, sekaligus mengguncang moral pasukan pendudukan dan membuka jalan bagi mundurnya Israel dari Lebanon.

Menurutnya, peringatan ini dirayakan serentak di 11 lokasi di seluruh Lebanon — Beirut, Nabatieh, Selatan, Baalbek, Hermel, Deir Qanoun, Haris, Mashghara, Al-Ghazieh, Kfar Rumman, dan lainnya — sebagai penghormatan kepada seluruh syuhada yang gugur di jalan perlawanan. “Cara terbaik memperingati hari besar ini adalah mengingat kata-kata Sayyed Hassan Nasrallah: ‘Ketika kita syahid, kita menang,’” kata Qassem.

Ia menegaskan bahwa para mujahid telah menjalankan kewajibannya, dan darah mereka “membuat kita semakin kuat.” Jalan perlawanan, kata Qassem, adalah jalan pembebasan dan kehormatan — dan para syuhada telah menunjukkan peta jalannya.

Meninjau kembali invasi Israel tahun 1982, Qassem menegaskan bahwa tujuan Israel bukan sekadar menghentikan roket PLO, melainkan menguasai Lebanon selatan dan mendirikan pemukiman. Ia juga menyebut upaya Israel menampilkan konflik seolah-olah internal Lebanon melalui pembentukan milisi Lahd yang disebut “Tentara Lebanon Selatan”.

Qassem menekankan bahwa mundurnya Israel pada 2000 adalah buah serangan perlawanan dan pengorbanan para syuhada, bukan hasil diplomasi. “Musuh mundur tanpa syarat. Dari 2000 hingga 2023, keseimbangan deterensi bertahan berkat perlawanan dan persamaan emas yang mencegah proyek ekspansionis Israel.”

Ia juga menyinggung Pertempuran Sang Perkasa yang membuat Israel gagal mencapai tujuannya, meski mengerahkan 75.000 tentara. “Mereka tidak mampu maju lebih dari beberapa ratus meter,” katanya.

Mengenai perjanjian gencatan senjata 27 November 2024 yang mewajibkan penarikan Israel ke selatan Sungai Litani dan penempatan Tentara Lebanon, Qassem menegaskan bahwa bagi perlawanan, harga tersebut “dapat diterima,” karena “tentara adalah rakyat kami sendiri.”

Ia menegaskan bahwa Hezbollah dibangun di atas keyakinan, moral, dan jihad — dan bahwa kemenangan perlawanan dicapai meskipun kemampuan militernya jauh lebih kecil dari Israel. “Kekuatan kami adalah iman dan tekad. Senjata kami menjadi berarti karena itu.”

Sheikh Qassem juga mengecam campur tangan Amerika dan Israel dalam politik Lebanon. Ia mengatakan bahwa Washington ingin mempersenjatai tentara Lebanon “bukan untuk menghadapi Israel, tapi untuk menghadapi perlawanan.” Ia menambahkan bahwa Israel berusaha menjadikan Lebanon halaman belakang proyek ‘Israel Raya’, sementara pemerintah Lebanon justru sibuk membahas pelucutan senjata perlawanan.

“Sekarang masalahnya bukan lagi soal senjata. Mereka ingin menargetkan kemampuan, dana, lalu setelah itu mereka akan bilang keberadaan perlawanan itu sendiri adalah masalah. Dalih semacam itu tidak akan pernah berakhir,” tegasnya.

Qassem menegaskan bahwa rakyat Lebanon tidak akan tunduk pada intimidasi. “Apa yang diminta Amerika hanyalah perintah yang disampaikan melalui tekanan Israel. Dan kami menolaknya.”

Ia memperjelas bahwa perjanjian hanya berlaku untuk wilayah selatan Litani, dan Israel harus menarik pasukannya serta membebaskan para tawanan. “Tidak ada pengganti perjanjian itu. Tidak ada pengampunan bagi penjajah melalui kesepakatan baru.”

“Kita menghadapi bahaya eksistensial, dan kita berhak melakukan apa pun untuk melindungi keberadaan kita,” lanjutnya. “Darah para syuhada dan pengorbanan rakyat mendorong kita maju. Ancaman tidak akan membuat kita mundur.”

Sheikh Qassem menutup pidatonya dengan menegaskan tekad: “Kami adalah anak-anak Hussein, anak-anak tanah yang teguh ini. Kami tidak akan menyerah kepada para penindas. Kami hidup dengan kehormatan atau mati dengan kehormatan. Kami tidak akan berlutut, dan jika kalian menguji kami lagi, kami tetap tidak akan meninggalkan medan.”

Ia juga memberikan salam untuk rakyat Palestina dan seluruh faksi perlawanan, memuji keteguhan mereka. “Kompas akan selalu menuju Palestina,” tegasnya. Ia juga menyampaikan penghormatan kepada Republik Islam Iran, Imam Khamenei, syahid Qassem Soleimani, serta rakyat Yaman dan Irak yang “selalu berdiri bersama perlawanan.”

Sumber berita: Al-Manar

Sumber gambar: Al Jazeera