Skip to main content

Navi Pillay, mantan Ketua Komisi Penyelidikan PBB untuk Wilayah Pendudukan Palestina, menyatakan bahwa tentara pendudukan Israel dengan sengaja menyerang Pusat Inseminasi Buatan “Al-Basma” di Jalur Gaza, yang menyebabkan hancurnya sekitar 4.000 embrio pada Desember 2023.

Dalam wawancara dengan surat kabar Inggris The Guardian, Pillay menegaskan bahwa serangan terhadap klinik tersebut dilakukan dengan tujuan mencegah kelahiran di kalangan warga Palestina di Gaza, dan menilai penyerangan terhadap tangki nitrogen yang digunakan untuk menyimpan embrio sebagai tindakan genosida yang terdokumentasi.

Ia menjelaskan bahwa klinik itu terletak di gedung yang terpisah dari rumah sakit lain, namun tetap diserang secara langsung, meskipun Israel berulang kali mengklaim bahwa Hamas bersembunyi di dalam fasilitas medis.

Menurut Pillay, Pusat Al-Basma merupakan klinik fertilisasi terbesar di Jalur Gaza, dan serangan tersebut menghancurkan ribuan embrio akibat kerusakan sistem pendingin serta pemadaman listrik di tengah blokade dan kehancuran luas fasilitas kesehatan sejak pecahnya perang pada Oktober 2023.

Pillay menambahkan bahwa insiden ini hanyalah salah satu contoh dari banyak pelanggaran yang telah didokumentasikan oleh komisi yang pernah ia pimpin, yang menyimpulkan bahwa Israel telah melakukan genosida terhadap rakyat Palestina.

Mantan pejabat tinggi PBB itu menyebutkan bahwa laporan-laporan resmi komisi memberikan data akurat dan terverifikasi mengenai penargetan anak-anak Palestina serta penghancuran sistem kesehatan dan pendidikan di Gaza. Ia menegaskan bahwa komunitas internasional tidak boleh berdiam diri menghadapi kampanye genosida ini.

“Ketika bukti jelas tentang genosida muncul, kegagalan untuk bertindak berarti turut serta dalam kejahatan tersebut,” ujar Pillay. Ia menegaskan bahwa setiap negara memiliki kewajiban hukum untuk mencegah genosida dan melindungi korban, seraya mempertanyakan: “Mengapa kewajiban ini belum dijalankan hingga kini?”

Pillay menjelaskan bahwa komisi PBB melakukan penyelidikan menyeluruh selama lebih dari dua tahun sebelum menyimpulkan secara hukum apa yang terjadi di Gaza, dan menegaskan bahwa hasil penyelidikan itu memiliki kredibilitas tinggi, setara dengan kerja lembaga peradilan internasional, hingga Mahkamah Internasional (ICJ) mengeluarkan putusan resminya.

Ia menyoroti bahwa yang membedakan genosida di Gaza dengan tragedi lain adalah faktanya terjadi di depan mata dunia.

“Orang-orang menyaksikan sendiri apa yang sedang terjadi. Ini adalah genosida yang berlangsung secara nyata, saat ini,” katanya.

Pillay juga menyinggung pernyataan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant, yang pada 2023 menyebut warga Palestina sebagai “hewan manusia”. Ia mengatakan, ujaran kebencian tersebut mengingatkannya pada retorika yang mendahului genosida terhadap etnis Tutsi di Rwanda pada 1994.

Menutup pernyataannya, Pillay menegaskan pentingnya menuntut pertanggungjawaban para pelaku kejahatan di Gaza, seraya menilai bahwa sistem internasional telah gagal mencegah genosida selama lebih dari dua tahun.

“Sistem internasional tidak dapat memberikan kekebalan bagi para pelaku. Keadilan hanya akan bermakna jika diterapkan secara menyeluruh,” tegasnya.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Middle East Eye