Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, mengatakan bahwa pernyataan Kanselir Jerman yang menyebut agresi terhadap Gaza akan berlanjut selama dua tahun ke depan merupakan pembenaran terbuka terhadap kejahatan genosida yang dilakukan oleh pendudukan Israel terhadap rakyat Palestina.
Menurut Qassem, pernyataan itu menunjukkan tingkat keterlibatan politik dan militer Jerman dalam agresi yang terus berlangsung di Jalur Gaza.
Ia menjelaskan bahwa posisi tersebut mencerminkan keberpihakan penuh kepada pendudukan Israel dan pengabaian terhadap fakta-fakta nyata yang telah mengecam kebijakan agresifnya. Qassem menyerukan agar pemerintah Jerman menarik kembali sikap memalukan itu dan berpihak pada kehendak rakyat serta nurani dunia yang menolak kelanjutan genosida di Gaza.
Kanselir Jerman Friedrich Merz pada Kamis, 30 Oktober 2025, dalam konferensi pers bersama Presiden Turki di Ankara, mengumumkan rencana pengerahan pasukan Jerman ke selatan Palestina yang diduduki dengan dalih memantau gencatan senjata di Gaza. Namun, ia kemudian mengakui keterlibatan negaranya dalam perang pemusnahan terhadap rakyat Palestina, dengan memprediksi terjadinya eskalasi baru selama dua tahun ke depan.
Merz juga menegaskan bahwa pemerintahnya telah mendukung entitas Zionis sejak 7 Oktober 2023, dengan membenarkan tindakan militernya sebagai “perang defensif”, meskipun dunia internasional melihatnya sebagai genosida yang nyata.
Dalam pernyataannya, Merz menyerukan pelucutan senjata Hamas, mengklaim hal itu sebagai jaminan untuk mencegah eskalasi baru. Namun, ia mengabaikan pelanggaran dan kejahatan berkelanjutan Israel, serta pengiriman senjata dari Amerika Serikat yang memperpanjang penderitaan rakyat Palestina — sebuah bukti jelas bahwa Jerman tetap berpihak sepenuhnya pada pendudukan Israel.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Islamic Republic News Agency

