Skip to main content

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan pada Rabu, 29 Oktober 2025, bahwa jendela diplomasi akan tetap terbuka bagi Iran bahkan di hari-hari paling bergolak, namun ia menekankan bahwa Teheran tidak akan bernegosiasi dengan musuh yang khianat dan melampaui batas—mereka yang telah meninggalkan dialog dan memilih ancaman serta agresi.

Pernyataan Araqchi disampaikan dalam Forum Nasional tentang Azerbaijan, Diplomasi, dan Integritas Teritorial Iran yang digelar di kota Tabriz. Ia menegaskan bahwa diplomasi Iran tetap bersandar pada warisan sejarahnya—berpegang teguh pada prinsip, namun lentur dalam metode—seraya menyerukan kebangkitan peran diplomasi daerah di kota-kota utara dan barat laut Iran.

Araqchi menyatakan bahwa pengalaman Iran membuktikan “tidak ada krisis yang mutlak dan tidak ada jalan buntu yang abadi,” menekankan bahwa Iran masih memandang dialog sebagai jalan menuju kebijaksanaan dan martabat.
“Negosiasi bukan tanda kelemahan,” ujarnya, “melainkan kelanjutan dari jalan rasionalitas. Siapa pun yang menempuh jalan dialog sedang mencari jalan menuju perdamaian dan kehormatan.”

Ia menambahkan bahwa menjunjung tinggi panji negosiasi dengan martabat, kebijaksanaan, dan kepentingan nasional merupakan pendekatan strategis yang ditekankan oleh Pemimpin Revolusi Islam dalam arahan beliau kepada seluruh pemerintahan, termasuk pemerintahan ke-14 yang dipimpin Dr. Masoud Pezeshkian.

Araqchi menegaskan bahwa diplomasi tetap berjalan bahkan di masa perang, dengan misi utama Kementerian Luar Negeri adalah membela kesatuan tanah, udara, dan perairan Iran, serta menjaga kemerdekaan, kedaulatan, dan kepentingan rakyatnya.
Ia menegaskan: “Dialog tidak berarti tunduk pada pemerasan atau menerima dikte. Iran tidak akan duduk di meja perundingan dengan mereka yang berbicara dengan bahasa ancaman dan berpikir dengan mentalitas penyerang.”

Menurutnya, syarat kelanjutan negosiasi adalah komitmen timbal balik terhadap kesetaraan, penghormatan, dan kepentingan bersama.

Araqchi memuji pengorbanan para diplomat Iran sepanjang sejarah, yang “menanggung pengasingan dan tuduhan demi menjaga kepentingan tanah air.” Ia berkata, “Mereka, seperti seluruh putra setia Iran, melihat tanah air sebagai matahari yang tak pernah tenggelam, dan mengabdi kepada Iran sebagai kehormatan yang melampaui segala pertimbangan.”

Ia menambahkan bahwa keberanian dan keteguhan para diplomat itu turut menjaga identitas nasional, dan bahwa menghormati para perintis diplomasi adalah kewajiban moral dan kebangsaan.
Araqchi menyinggung para perintis seperti Mirza Moheb Ali Khan Nazim al-Mulk al-Marandi, pelopor diplomasi modern Iran pada abad ke-19, yang ikut serta dalam komisi perbatasan Iran–Kekaisaran Utsmani.
Menurutnya, ketulusan dan kecerdasan para tokoh itu dalam mengelola perundingan turut melindungi kemerdekaan dan keutuhan wilayah Iran.

Araqchi menjelaskan bahwa diplomasi adalah perwujudan rasionalitas dan sarana pengelolaan hubungan antarbangsa.
Ia menegaskan bahwa dalam pandangan Iran, diplomasi bukan alat sementara untuk melewati krisis, melainkan pengejawantahan rasionalitas yang melekat dalam peradaban Iran. “Rakyat Iran memandang dialog sebagai bagian dari kekuatan, bukan pengganti kekuatan,” katanya, seraya menekankan bahwa kehormatan, kesabaran, dan keseimbangan adalah tiga pilar dasar diplomasi Iran.

Ia menambahkan bahwa kesantunan dan martabat telah berakar kuat dalam tradisi diplomasi Iran. Bahkan sumber-sumber Eropa abad ke-19 seperti John Malcolm dan Lord Curzon, menurutnya, memuji etika para negosiator Iran yang selalu menjaga rasa hormat timbal balik bahkan dalam saat-saat paling sulit.

Araqchi juga menyoroti peran historis wilayah barat laut Iran dalam komunikasi diplomatik dengan Kaukasus, Anatolia, dan kawasan Laut Hitam. Ia mengingatkan bahwa perundingan resmi pertama antara Iran dan Kekaisaran Utsmani berlangsung di kota Tabriz dan Khoy, dan pada masa Qajar, Tabriz menjadi pusat diplomasi penting dengan Rusia dan Kaukasus.

Ia menambahkan bahwa diplomasi provinsi hari ini merupakan kelanjutan dari warisan tersebut, di mana provinsi Azerbaijan Timur dan Barat, Ardabil, serta Gilan memainkan peran sentral dalam hubungan dengan Rusia, Turki, Azerbaijan, Armenia, dan Georgia.
Araqchi menutup dengan mengungkapkan bahwa Kementerian Luar Negeri Iran tengah mengaktifkan pendekatan ini melalui kedutaan dan konsulat di kelima negara tersebut untuk memperluas kerja sama perdagangan, pertukaran antarwarga, serta hubungan budaya dan politik, guna membangun jembatan baru yang berlandaskan warisan peradaban bersama.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Asharq Al Awsat