Skip to main content

Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, menegaskan bahwa perlawanan siap untuk mempertahankan Lebanon, namun tidak sedang bersiap untuk memulai perang. Ia menjelaskan bahwa Hizbullah tidak memiliki keputusan untuk memulai pertempuran atau mengambil inisiatif dalam konfrontasi bersenjata, tetapi siap membela Lebanon jika perang dipaksakan kepada mereka.

Sheikh Naim Qassem menekankan bahwa jika perang terjadi, Hizbullah akan melawan Israel dengan segala kemampuan yang dimiliki, bahkan hingga pejuang terakhir, baik laki-laki maupun perempuan, dan tidak akan membiarkan pasukan Israel menembus Lebanon Selatan.

Dalam wawancara eksklusif dengan Al-Manar TV pada Minggu, 26 Oktober 2025, Sheikh Naim Qassem mengatakan bahwa “ritme agresi harian yang kita saksikan merupakan bentuk tekanan dari Amerika Serikat dan Israel untuk mencapai secara politik apa yang gagal mereka raih di medan perang.”

Ia memperingatkan bahwa “jika musuh melancarkan perang terhadap Lebanon, mereka tidak akan mencapai apa pun,” sambil menyerukan pelaksanaan penuh perjanjian gencatan senjata. Ia menambahkan, “semua pihak akan diuntungkan jika kesepakatan itu dijalankan, tetapi jika tidak, mereka tidak akan meraih apa pun, dan kami akan terus bersiap menghadapi setiap bentuk agresi.”

Sekretaris Jenderal Hizbullah itu menjelaskan bahwa perlawanan memiliki tingkat daya tangkal yang, meskipun mungkin tidak mencegah pecahnya perang, dapat menggagalkan tujuan musuh. Ia menambahkan bahwa dalam perang sebelumnya Israel gagal mencapai tujuannya, dan perjanjian baru ini pun tidak akan mengubah kenyataan itu.

Menanggapi penyelidikan terkait dugaan infiltrasi di tubuh Hizbullah, Sheikh Naim Qassem menjelaskan bahwa perlawanan “masih melanjutkan penyelidikan dan akan mengumumkan hasilnya kepada publik setelah selesai,” seraya menambahkan bahwa ia telah berjanji sebelumnya dan “janji itu, insya Allah, akan ditepati.”

Ketika ditanya mengapa Hizbullah belum menanggapi serangan harian Israel, Sheikh Naim Qassem mengatakan bahwa setelah kesepakatan gencatan senjata dicapai, tanggung jawab pertahanan diserahkan kepada negara Lebanon. Ia menegaskan bahwa pemerintah kini memikul kewajiban untuk melindungi negara, menegakkan kedaulatan, menekan agresi, dan mencegah pelanggaran lebih lanjut.

Ia mendesak pemerintah Lebanon agar menunaikan tanggung jawabnya, menegaskan bahwa “sepuluh bulan telah berlalu dan kalian belum mampu mengambil tindakan sekecil apa pun,” sambil memperingatkan bahwa sikap diam perlawanan “tidak akan berlangsung selamanya.”

Menurut Sheikh Naim Qassem, perjuangan Hizbullah melawan Israel tidak hanya untuk mempertahankan Lebanon, tetapi juga untuk melindungi Palestina, Mesir, dan Suriah, karena ambisi Israel, katanya, mengancam seluruh kawasan.

Ia menegaskan bahwa “negara Lebanon-lah yang memutuskan bagaimana mengelola urusan dalam negerinya, termasuk soal senjata atau hal lainnya, dan Israel tidak memiliki hak untuk ikut campur.”

Sheikh Naim Qassem juga membantah tuduhan bahwa Iran menolak menyediakan senjata bagi perlawanan, menegaskan bahwa Hizbullah dan Iran memiliki landasan perjuangan yang sama dalam menentang pendudukan dan memperjuangkan pembebasan Palestina.

Ia menegaskan bahwa sikap perlawanan adalah “bertahan dan melawan hingga napas terakhir, dan biarlah musuh mencoba merebut senjata itu sendiri,” sambil menambahkan bahwa “pemerintah Lebanon seharusnya bertindak lebih tegas, karena mekanisme yang ada saat ini justru melayani kepentingan Israel.”

Mengenai perang Israel di Lebanon pada 2024, Sheikh Naim Qassem mengatakan kepada Al-Manar TV bahwa ia segera mengambil alih tanggung jawab setelah gugurnya Sayyid Hassan Nasrallah, dan berkoordinasi dengan mendiang Sayyid Hashim Safi al-Din dalam urusan militer, sementara dirinya memimpin bidang politik.

Sheikh Naim Qassem mengakui bahwa ia tidak menyangka kehilangan Sekretaris Jenderal kedua Hizbullah itu secara tiba-tiba dan dengan cara seperti itu. Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai titik balik dalam kehidupannya dan dalam cara ia memikul tanggung jawab.

Ia menjelaskan bahwa ia tidak pernah merasa sendirian dalam mengelola urusan partai. “Kami selalu bermusyawarah dengan para saudara dan anggota Dewan Syura, mengambil keputusan secara kolektif, serta berkoordinasi dengan pimpinan militer dalam mengeluarkan arahan sambil mendengarkan masukan mereka,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal Hizbullah itu menegaskan bahwa “Hizbullah tidak pernah dibangun di sekitar satu individu, melainkan sebagai organisasi yang terintegrasi, terdiri atas para pejuang dan kader yang berbagi tanggung jawab dan peran.”

Mengenai pertempuran Uli al-Baas, Sheikh Naim Qassem mengatakan bahwa pencapaian dalam pertempuran tersebut “merupakan hasil perjuangan kolektif seluruh barisan perlawanan, bukan hasil kerja satu individu, karena setiap orang menjalankan perannya dengan koordinasi dan tanggung jawab.”

Ia membantah klaim bahwa Iran mengarahkan pertempuran itu, menegaskan bahwa “Hizbullah mengelola operasi melalui kepemimpinan dan Dewan Syura sendiri, dengan pengawasan langsung dari para pejuang laki-laki dan perempuan.”

Menurut Sheikh Naim Qassem, Hizbullah segera memulihkan stabilitas setelah dua Sayyid gugur. “Kami mengisi posisi-posisi yang kosong, dan manajemen berjalan efektif berkat kerja sama semua saudara, meskipun kami menghadapi sepuluh hari yang sangat berat antara 27 September hingga 7 Oktober, sebelum kepemimpinan kembali stabil,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa komunikasi dan pengambilan keputusan antara Sekretaris Jenderal dan pimpinan militer tetap berjalan sepanjang pertempuran Uli al-Baas, dengan sistem komando yang memadukan kendali politik dan militer secara bersamaan.

Sekretaris Jenderal Hizbullah itu juga memastikan bahwa penyerangan terhadap rumah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilakukan secara sengaja, dengan target yang diarahkan langsung ke rumahnya, bahkan hingga kamar tidur. “Serangan itu mencapai sasarannya dengan tepat,” ujarnya.

Sheikh Naim Qassem menjelaskan bahwa salah satu anggota operasi memiliki denah rumah dan mengetahui tata ruangnya. Setelah mengonfirmasi koordinat dan memperoleh izin, ia melaksanakan serangan tersebut dengan sukses.

Ia menegaskan bahwa operasi semacam ini bukan peristiwa tunggal. “Para pelatih di antara saudara-saudara kami memiliki tingkat keahlian yang tinggi, dan hal ini terbukti karena setiap target yang mereka incar berhasil dihantam,” katanya.

Menanggapi pertanyaan mengapa jumlah dan jenis roket yang digunakan tidak memenuhi ekspektasi publik, Sheikh Naim Qassem menjelaskan bahwa serangan awal Israel pada 23 September 2024 “sangat berdampak besar.”

Ia mengatakan bahwa operasi saat itu mencakup 1.600 serangan udara, yang menyebabkan 550 syahid, serta menargetkan struktur kepemimpinan Hizbullah, sehingga memengaruhi kemampuan dan kesiapan tempur perlawanan.

Lebih lanjut, Sheikh Naim Qassem menjelaskan bahwa ketika Hizbullah mulai memimpin pertempuran, kapasitasnya sudah menurun dibandingkan sebelumnya. Karena itu, mereka mengandalkan analisis informasi yang cermat untuk memaksimalkan dampak dan hasil.

Ia menambahkan bahwa penggunaan kekuatan berlebihan dapat memicu respons musuh yang lebih keras dan menimbulkan kerugian besar, sehingga perlawanan memilih bertindak secara presisi dan berhati-hati.

Sheikh Naim Qassem menegaskan bahwa antara 2006 dan 2023, strategi daya tangkal Hizbullah berfokus pada menunjukkan keunggulan kekuatan, sebuah pendekatan yang menurutnya “berhasil dan mencapai tujuannya pada masa itu.”

Ia mengatakan, “Jika seseorang bertanya, ‘mengapa kami melakukannya,’ pertanyaan sebenarnya bukan apakah kami melakukannya atau tidak, tetapi apakah langkah itu mencapai tujuannya dan membawa manfaat.”

Ia menjelaskan bahwa kini perlawanan menerapkan pendekatan yang berbeda, yang tidak lagi menonjolkan kekuatan secara berlebihan. “Sekarang kami memiliki taktik dan cara baru. Kami tidak menunjukkan kekuatan berlebih, juga tidak memiliki lebih dari yang diperlukan. Kami beroperasi dengan kekuatan yang cukup, jadi tidak perlu memperlihatkan lebih dari yang kami punya,” ujar Sheikh Naim Qassem.

“Hari ini kami berada dalam posisi yang lebih baik dibanding sebelum pertempuran Uli al-Baas,” tambahnya.

Sekretaris Jenderal Hizbullah itu menegaskan bahwa keputusan untuk ikut serta dalam perang dukungan bagi Gaza diambil secara sadar dan tepat waktu, setelah pertimbangan matang.

Menurut Sheikh Naim Qassem, Hizbullah memutuskan untuk bertindak karena “tidak mungkin membiarkan musuh berada di perbatasan kami, melakukan pembantaian terhadap perlawanan di Gaza, lalu menyerang kawasan lain setelahnya,” sambil mengingatkan pernyataan Benjamin Netanyahu tentang “Israel Raya” yang mencerminkan pendekatan agresif tersebut.

Ia menegaskan bahwa partisipasi Hizbullah dalam perang dukungan bagi Gaza sepenuhnya sejalan dengan keyakinan dan prinsip perlawanan. Ia menyebut langkah itu “benar secara politik, moral, dan etis, serta berdasarkan keimanan dan keyakinan kami,” dan menegaskan bahwa “jika situasi serupa terulang, kami akan bertindak dengan prinsip yang sama.”

Dalam konteks ini, Sheikh Naim Qassem menilai bahwa upaya untuk mengaitkan kesyahidan Sayyid Hassan Nasrallah dengan perang dukungan terhadap Gaza merupakan “manuver politik yang bertujuan mendistorsi makna partisipasi perlawanan,” sambil menegaskan bahwa apa yang terjadi “sepenuhnya tepat,” dan bahwa Sayyid Hassan Nasrallah “mencapai derajat tertinggi yang ia dambakan, yaitu kesyahidan.”

Ia menambahkan bahwa pemimpin para syahid itu meninggalkan partai dan bangsa yang mampu melanjutkan ajaran dan prinsip yang ia bangun semasa hidupnya dengan kekuatan besar. “Itu merupakan pencapaian luar biasa,” kata Sheikh Naim Qassem, seraya menegaskan bahwa semua musuh Hizbullah telah salah perhitungan jika mengira tragedi itu akan menghancurkan gerakan ini.

Sheikh Naim Qassem juga menegaskan bahwa Pasukan Radwan, yang merupakan bagian penting dari kekuatan Hizbullah, “mengalami penderitaan, kehilangan, dan pengorbanan seperti seluruh barisan perlawanan lainnya.”

“Pasukan Radwan merasakan luka dan kehilangan, namun tetap bertahan dan terus berjuang,” ujarnya. “Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan sejati perlawanan tidak hanya terletak pada senjata, tetapi juga pada iman dan tekad — dan keduanya tetap hidup dan kuat.”

Ia menambahkan bahwa semangat kebangkitan terlihat jelas di kalangan pendukung Hizbullah, yang menunjukkan keteguhan mereka melalui partisipasi besar dalam upacara pemakaman syahid dan kehadiran generasi muda al-Mahdi, yang ia sebut sebagai penerus perjuangan masa depan.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Press TV