Sebuah pengumuman resmi dari pihak tentara Iran yang disampaikan pada hari Jumat, 17 Juli 2026 dini hari waktu setempat, menyebutkan bahwa mereka telah melaksanakan fase kesebelas dari Operasi Thunderbolt yang menargetkan berbagai pusat dan pangkalan militer Amerika Serikat di negara Bahrain sebagai bentuk balasan atas berbagai serangan Amerika Serikat terhadap warga sipil serta infrastruktur sipil. Dalam fase operasi militer ini, pihak tentara Iran membidik langsung lokasi penempatan helikopter dan pesawat pengintai P-8 Amerika Serikat di pangkalan Sakhir di Bahrain dengan menggunakan armada serangan drone bunuh diri Arash. T
entara Iran secara tegas menekankan dalam pernyataannya bahwa keamanan dan kemerdekaan bangsa Iran merupakan sebuah garis merah yang tidak dapat diganggu gugat, seraya menggarisbawahi komitmen angkatan bersenjata yang akan merespons dengan cepat dan sangat tegas sesuai dengan setiap tindakan bermusuhan yang dilakukan oleh pihak musuh. Pihak militer juga mengeluarkan peringatan keras bahwa setiap kesalahan perhitungan terhadap kehendak rakyat, maupun terhadap kemampuan operasional dari pihak tentara dan Korps Garda Revolusi Islam Iran, akan membuahkan konsekuensi dan harga yang sangat mahal bagi musuh Amerika Serikat yang arogan.
Dalam gelombang perluasan sasaran militer yang menargetkan konsentrasi pasukan Amerika Serikat di Kuwait, militer Iran turut mengumumkan bahwa mereka telah menyerang posisi-posisi pasukan Amerika Serikat di wilayah tersebut dengan mengerahkan serangan drone bunuh diri Arash. Pihak tentara menegaskan bahwa mereka akan senantiasa berdiri waspada dan tangguh dalam menghadapi setiap tekanan maupun ancaman, seraya menyatakan keyakinannya bahwa negara Iran, bersama dengan rakyatnya yang heroik, pasti akan meraih kemenangan atas musuh yang jahat dan licik. Rangkaian balasan militer pihak Iran ini muncul seketika setelah Amerika Serikat melancarkan serangkaian serangan skala luas semenjak awal malam dan saat fajar di hari yang sama, dengan menargetkan berbagai fasilitas vital, infrastruktur penting, serta pangkalan militer di sejumlah provinsi di Iran.
Serangan tersebut telah mengakibatkan jatuhnya para syuhada, timbulnya korban luka-luka, serta kerusakan material yang teramat serius, yang semuanya merupakan bagian dari agresi Amerika Serikat yang telah berlangsung secara terus-menerus selama berhari-hari terhadap kawasan selatan Iran. Sebagai bagian dari respons negara secara menyeluruh, pemerintah Teheran juga telah memberlakukan penutupan Selat Hormuz sejak hari Minggu, 12 Juli 2026 yang lalu bagi seluruh lalu lintas navigasi laut hingga intervensi dan agresi Amerika Serikat di kawasan tersebut benar-benar berakhir, dalam sebuah langkah strategis yang diambil dengan latar belakang gelombang operasi militer baru yang terus menargetkan kedaulatan Iran.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Jerusalem Post


