Hamas menyatakan bahwa otoritas pendudukan Israel masih terus melancarkan perang pemusnahan massal di Jalur Gaza. Dalam melancarkan aksinya, Israel menggunakan taktik pengepungan, kelaparan, dan pembunuhan yang menyasar anak-anak serta warga sipil tak bersenjata, meskipun gencatan senjata telah dideklarasikan.
Dalam pernyataan resminya pada hari Kamis, 25 Juni 2026, Hamas memaparkan bahwa rakyat Palestina di Gaza terus menghadapi bencana kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Krisis ini kian parah setiap harinya akibat agresi tanpa henti dari Israel, yang mencakup pembunuhan sistematis, isolasi, dan penghancuran kawasan. Tindakan tersebut merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional sekaligus wujud pengingkaran Israel atas komitmen gencatan senjatanya.
Kondisi kelam yang dialami warga Palestina saat ini—seperti meluasnya kelaparan dan kemiskinan, lumpuhnya sistem kesehatan, hancurnya fasilitas air dan sanitasi, hingga terhentinya proses pendidikan—menjadi bukti nyata dari kejahatan tersebut. Hamas menegaskan bahwa penderitaan yang makin berat bagi kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, dan lansia ini menunjukkan bahwa Israel sengaja menggunakan kelaparan, perampasan hak, dan penghancuran terstruktur sebagai alat untuk menuntaskan agresinya terhadap lebih dari dua juta warga di Gaza.
Terkait bantuan kemanusiaan, Hamas menilai upaya dari berbagai lembaga bantuan masih sangat terbatas dan jauh dari kebutuhan riil di lapangan. Hal ini disebabkan oleh ketatnya pembatasan yang diberlakukan Israel terhadap akses masuk dan distribusi logistik, serta serangan militer yang terus melumpuhkan berbagai aspek kehidupan sipil. Oleh karena itu, pasokan bantuan dalam jumlah kecil tidak akan pernah bisa menggantikan pentingnya penghentian agresi dan pencabutan blokade secara total. Hamas menggarisbawahi bahwa akar dari malapetaka ini adalah penjajahan dan kebijakan kriminal Israel, bukan karena kurangnya upaya kemanusiaan.
Hamas dengan tegas menyatakan bahwa Israel dan pemerintah Amerika Serikat bertanggung jawab penuh atas memburuknya tragedi ini. Mereka mengecam keras segala upaya yang mengganggu penyaluran bantuan atau mengacaukan keamanan masyarakat demi melayani agenda penjajah, yang pada akhirnya hanya melipatgandakan penderitaan warga. Untuk itu, Hamas mendesak negara-negara Arab dan Islam, Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta lembaga internasional lainnya untuk segera memikul tanggung jawab hukum dan kemanusiaan mereka. Langkah mendesak harus diambil untuk menyudahi genosida ini, mencabut blokade tanpa syarat, membuka semua jalur perlintasan, menjamin masuknya bantuan secara aman, dan segera memulai pembangunan kembali wilayah yang hancur.
Hamas menutup pernyataannya dengan mengingatkan bahwa upaya menyelamatkan Jalur Gaza tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan rilis sikap dan kecaman. Diperlukan langkah-langkah nyata untuk mengakhiri agresi dan pengepungan, sehingga rakyat Palestina dapat hidup bebas dan bermartabat di tanah mereka sendiri, sekaligus menyudahi kejahatan kemanusiaan ini. Sejalan dengan hal tersebut, Juru Bicara Hamas, Hazem Qassem, turut memperingatkan bahaya dari kembali munculnya wacana mengenai pemindahan paksa warga Palestina dari Jalur Gaza. Ia mendesak Amerika Serikat untuk memperjelas posisinya terkait usulan tersebut dan mencegah segala langkah yang dapat merusak kesepakatan. Pada kenyataannya, di tengah klaim “gencatan senjata”, Israel terus melanjutkan operasi pemusnahan sistematisnya di Gaza dengan meruntuhkan kawasan permukiman dan menyerang warga sipil yang tak berdaya.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: Times of Israel



