Skip to main content

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan pada Senin, 22 Juni 2026, bahwa upaya mediasi yang dilakukan secara intensif oleh Pakistan dan Qatar telah membuahkan kemajuan signifikan dalam mengakhiri perang melawan Lebanon. Abbas Araqchi menambahkan bahwa ujian nyata pertama dari nota kesepahaman yang berhasil dicapai ini adalah metode pemisahan pasukan di Lebanon. Dalam keterangannya, beliau mengungkapkan bahwa sanksi berupa larangan ekspor minyak dan produk petrokimia terhadap Iran kini telah resmi dicabut. Selain itu, blokade ekonomi telah dihentikan dan sebagian aset nasional Iran yang sempat dibekukan di luar negeri telah dilepaskan, di mana momentum ini langsung diikuti dengan peluncuran rencana besar untuk pembangunan dan rekonstruksi nasional Iran.

Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baghaei, mengumumkan bahwa tugas delegasi perunding Republik Islam Iran di Swiss telah resmi berakhir, meskipun tim teknis akan tetap melanjutkan pekerjaan mereka untuk menyelesaikan sejumlah isu esensial yang tersisa. Ismail Baghaei membeberkan dinamika lapangan serta diplomasi yang sempat terjadi di koridor perundingan, di mana pertemuan tersebut sejatinya telah dimulai sejak Minggu pagi di Hotel Burgenstock, Swiss. Namun, di tengah berlangsungnya pertemuan quadrilateral (empat pihak) tersebut, pihak Amerika Serikat justru menerbitkan sebuah pernyataan yang bernada ancaman. Tindakan provokatif Washington ini langsung direspons tegas oleh delegasi Iran yang menyatakan keengganan mereka untuk melanjutkan pertemuan pada sesi tersebut.

Selama jalannya negosiasi, delegasi Teheran secara konsisten menyuarakan kekhawatiran mendalam mengenai kegagalan pihak Barat dalam memenuhi komitmen mereka, terutama terkait pelanggaran gencatan senjata yang terus berulang di Lebanon. Iran menegaskan kembali urgensi mutlak untuk menghentikan perang dan seluruh operasi militer di semua front pertempuran, termasuk di tanah Lebanon. Terkait berkas negosiasi ekonomi dan strategis yang berada di meja perundingan, Ismail Baghaei mengungkapkan bahwa pembahasan mengenai penerbitan izin ekspor minyak serta pencairan aset-aset Iran yang dibekukan telah mencapai perkembangan yang sangat baik.

Salah satu poin krusial yang berhasil disepakati dalam pertemuan 18 jam tersebut adalah penetapan mekanisme bersama untuk jalur perlintasan aman bagi kapal-kapal internasional yang melewati Selat Hormuz, yang dinilai sebagai pencapaian sangat penting demi stabilitas maritim dunia. Ismail Baghaei menyimpulkan bahwa fondasi dasar yang diperlukan untuk memulai negosiasi menuju kesepakatan final telah berhasil diletakkan. Sebagai langkah penutup dari diplomasi maraton ini, para pihak mediator dari Pakistan dan Qatar dijadwalkan akan segera menerbitkan sebuah draf teks berisi poin-poin umum, yang nantinya akan dipresentasikan secara resmi sebagai dokumen sah atas seluruh kesepakatan yang berhasil dicapai selama perundingan.

Sebelumnya, proses negosiasi empat pihak yang bertujuan untuk menindaklanjuti pelaksanaan komitmen dalam Memorandum Kesepahaman Islamabad tersebut sempat diwarnai oleh aksi ketegangan protokol. Kantor Berita Tasnim mengutip sumber yang berada di lingkaran tim negosiator Iran yang mengungkapkan bahwa delegasi Amerika Serikat bersama pihak penyelenggara pertemuan pada awalnya telah merancang sebuah skenario seremonial berupa sesi jabat tangan serta pengambilan foto bersama antara delegasi Iran dan Amerika Serikat di awal sesi multilateral. Namun, ketua delegasi perunding Iran bersama seluruh tim pendampingnya secara tegas menolak prosedur protokol tersebut dan mengumumkan bahwa mereka tidak akan sudi berpartisipasi dalam acara foto bersama dengan delegasi Amerika Serikat, sebagai bentuk ketegangan diplomatik yang masih membekas di antara kedua belah pihak.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Al Jazeera