Skip to main content

Kantor Berita Tasnim mengutip pernyataan seorang sumber keamanan pada hari Kamis yang mengungkapkan bahwa salah satu penasihat paling penting bagi Presiden Uni Emirat Arab, Mohammed bin Zayed, telah bekerja sama dengan jaringan intelijen Israel sejak tahun 2015. Sumber tersebut mengindikasikan bahwa aktivitas pemantauan dan pemanfaatan terhadap penasihat kepresidenan tersebut memasuki fase baru yang jauh lebih intensif mulai tahun 2015, setelah sebelumnya sosok ini masuk dalam radar pengawasan berkala.

Berdasarkan keterangan sumber tersebut, penasihat utama Mohammed bin Zayed sebenarnya telah menarik perhatian lembaga keamanan Israel sejak tahun 2007 karena sifat dan pengaruh besar dari posisi jabatan yang diembannya. Namun, nilai strategis dari penasihat presiden tersebut bagi kepentingan Tel Aviv pertama kali ditemukan dan diidentifikasi di dalam internal Kementerian Luar Negeri Israel.

Unit khusus yang ditugaskan untuk menangani operasi ini adalah badan keamanan Kementerian Luar Negeri Israel yang dikenal dengan nama MAMAD. Unit MAMAD memainkan peran kunci serta sangat krusial dalam mengidentifikasi profil penasihat presiden tersebut, untuk kemudian secara bertahap membentuk dan mengarahkan posisi serta kebijakan politik yang diambilnya agar menguntungkan pihak Israel.

Operasi intelijen ini mengalami peningkatan eskalasi struktural ketika badan intelijen luar negeri Israel, Mossad, mulai terlibat langsung dalam menangani kasus penasihat presiden UEA tersebut sejak tahun 2018. Sejak periode itu, Mossad mengambil alih kendali operasi dan ditugaskan untuk melakukan komunikasi serta pengarahan secara langsung dengan sang penasihat guna memastikan seluruh instruksi strategis berjalan sesuai dengan rencana keamanan entitas Zionis di kawasan Teluk.

Sumber berita: Al-Mayadeen

Sumber gambar: Atalayar