Skip to main content

Pasukan pendudukan Israel membombardir area dekat stasiun bus Jabalia di lingkungan Al-Daraj, pusat Kota Gaza, pada Rabu malam, 6 Mei 2026. Serangan tersebut mengakibatkan gugurnya seorang pemuda bernama Hamza Al-Sharbasi serta melukai Azzam Khalil Al-Hayya, yang merupakan putra dari pimpinan Hamas di Jalur Gaza. Selain itu, 15 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka dalam insiden yang sama. Di lokasi berbeda, sejumlah warga juga terluka akibat serangan Israel yang menargetkan kamp pengungsi di lingkungan Zeitoun, Kota Gaza.

Kekerasan terus berlanjut ke wilayah selatan, di mana Kolonel Polisi Nassim Al-Kalzani gugur setelah pasukan pendudukan membom kendaraannya di area Al-Mawasi, Kota Khan Yunis. Menanggapi eskalasi ini, Hamas menegaskan bahwa tindakan tentara pendudukan yang terus menargetkan warga sipil merupakan pelanggaran nyata terhadap perjanjian gencatan senjata. Mereka menuntut pemerintah Amerika Serikat serta negara-negara penjamin kesepakatan Sharm el-Sheikh untuk segera bertindak meredam agresivitas pendudukan.

Meskipun perjanjian gencatan senjata telah dicapai sejak Oktober 2025, serangan harian Israel terhadap Jalur Gaza tidak pernah berhenti. Kementerian Kesehatan di Gaza mengumumkan bahwa sejak kesepakatan gencatan senjata tersebut ditandatangani, jumlah syuhada telah meningkat menjadi 837 jiwa, jumlah luka-luka mencapai 2.381 orang, dan 769 jenazah telah berhasil dievakuasi. Secara kumulatif, statistik perang genosida ini telah mencatat 72.619 syuhada dan 172.484 warga terluka sejak meletusnya konflik pada 7 Oktober 2023.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Al Jazeera