Hizbullah melakukan serangkaian serangan balasan pada Rabu, 22 April 2026, sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan militer Israel di berbagai desa perbatasan Lebanon Selatan. Pada pukul 18.00, pejuang perlawanan menargetkan kendaraan komando “Hummer” milik militer pendudukan di kota Qantara menggunakan drone peledak yang berhasil mengenai sasaran secara langsung. Selain itu, Hizbullah juga menyerang kumpulan tentara Israel di lokasi yang sama serta berhasil menembak jatuh empat drone pengintai musuh di kota Mansouri sebagai jawaban atas pelanggaran ruang udara Lebanon.
Eskalasi ini dipicu oleh serangan udara Israel sebelumnya yang menyasar sebuah mobil di kota Al-Tiri, mengakibatkan dua orang gugur dan melukai dua jurnalis perempuan, Amal Khalil dan Zainab Faraj. Militer pendudukan dilaporkan sempat menghalangi akses ambulans menuju lokasi kejadian hingga akhirnya Palang Merah berhasil mengevakuasi Zainab Faraj, sementara nasib Amal Khalil masih dalam pencarian di bawah hambatan militer. Serangan drone Israel lainnya di Yahmor al-Shaqif juga merenggut dua nyawa dan melukai dua orang lainnya, mempertegas pengabaian Tel Aviv terhadap kesepakatan jeda pertempuran sementara.
Gencatan senjata 10 hari yang dimulai pada 17 April 2026 kini berada di ambang kehancuran akibat berlanjutnya serangan artileri dan serangan udara Israel terhadap warga sipil di perbatasan. Menanggapi situasi ini, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, menegaskan bahwa gencatan senjata harus berarti penghentian total seluruh aktivitas permusuhan tanpa pengecualian. Beliau memperingatkan bahwa para pejuang perlawanan tetap bersiaga penuh dengan tangan di atas pemicu dan tidak akan ragu untuk membalas setiap bentuk provokasi demi melindungi kedaulatan Lebanon.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Anadolu Agency


