Skip to main content

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pesan mendalam dalam rangka memperingati 40 hari gugurnya Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatullah Ali Khamenei, pada Jumat, 10 April 2026. Pezeshkian menegaskan bahwa rakyat Iran telah berhasil mengubah keseimbangan kekuatan global selama 40 hari terakhir melalui persatuan antara rakyat, pemerintah, dan angkatan bersenjata. Ia menyatakan bahwa gencatan senjata yang tengah diupayakan merupakan hasil dari keberhasilan bangsa Iran dalam memaksakan kehendak mereka terhadap musuh, sembari menekankan bahwa seluruh aksi militer yang dilakukan Teheran bersifat defensif demi melindungi kedaulatan negara dari mimpi buruk kehancuran yang dirancang oleh pihak-pihak jahat.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, turut memberikan penghormatan dengan menyebutkan bahwa rakyat bersama para pembela tanah air telah menuliskan epik kepahlawanan yang menakjubkan dunia. Loyalitas rakyat terhadap pemimpin yang telah mengorbankan diri demi Iran dan Islam dipandang sebagai modal dasar keamanan nasional yang tidak tertandingi. Peringatan ini berlangsung di tengah bayang-bayang agresi Amerika-Israel yang telah berlangsung selama lebih dari 40 hari, di mana serangan terhadap Lebanon terus berlanjut dan menambah jumlah korban jiwa setiap harinya, meskipun Teheran telah menetapkan penghentian serangan di Lebanon sebagai poin krusial dalam kesepakatan gencatan senjata.

Di panggung diplomasi internasional, Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi melakukan komunikasi intensif dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov untuk menegaskan tanggung jawab Amerika Serikat dalam memenuhi janji penghentian perang di berbagai wilayah, termasuk Lebanon. Araqchi menyatakan bahwa jaminan jalur aman di Selat Hormuz hanya akan tetap dimungkinkan jika Washington mematuhi nota kesepahaman yang ada dan mengimplementasikan janji-janjinya. Menanggapi hal tersebut, Rusia secara resmi menyambut baik kesepahaman gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat. Moskow menegaskan posisi strategisnya bahwa kesepakatan ini harus memiliki karakter regional yang mencakup Lebanon, bukan sekadar kesepakatan bilateral, guna menciptakan perdamaian abadi dan keamanan berkelanjutan di Asia Barat.

Selain dengan Rusia, diplomasi Iran juga menjangkau Korea Selatan melalui komunikasi antara Menlu Araqchi dan Menlu Cho Hyun, yang menekankan pentingnya kepatuhan universal terhadap gencatan senjata di semua front sebagai basis penghentian perang. Kepresidenan Iran kembali menegaskan bahwa inisiatif 10 poin yang mereka ajukan tetap menjadi satu-satunya kerangka kerja untuk mengakhiri konflik, dengan syarat mutlak gencatan senjata di Lebanon. Meskipun Israel terus melanjutkan agresi ekstensifnya di wilayah Lebanon sejak awal Maret, Teheran tetap bersikeras bahwa stabilitas kawasan hanya dapat dicapai jika hak-hak rakyat Lebanon dan kedaulatan front perlawanan dihormati sesuai dengan kesepakatan yang telah diletakkan di atas meja perundingan.

Sumber berita: Al-Mayadeen

Sumber gambar: Press TV