Skip to main content

Menteri Luar Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengeluarkan pernyataan keras melalui wawancara dengan NBC News pada Kamis malam, yang menegaskan bahwa Teheran sama sekali tidak melihat alasan untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat. Araqchi membantah keras klaim adanya pesan rahasia yang dikirimkan kepada Washington dan menyatakan bahwa pihak Iran tidak pernah mengajukan permintaan gencatan senjata. Menurutnya, Iran saat ini jauh lebih siap menghadapi perang dibandingkan konflik-konflik sebelumnya, terutama dengan peningkatan signifikan pada kualitas dan jangkauan teknologi rudal yang telah terbukti kemampuannya dalam beberapa hari terakhir.

Terkait ancaman serangan darat, Araqchi menegaskan bahwa militer Iran tidak merasa takut dan justru sedang menunggu pasukan agresor masuk ke wilayah mereka. Ia memperingatkan bahwa invasi darat akan menjadi bencana besar bagi Amerika Serikat dan sekutunya, mengingat seluruh skenario pertahanan telah dipersiapkan dengan matang untuk menghadapi segala kemungkinan. Araqchi menilai Washington telah gagal mencapai tujuan utamanya, yaitu kemenangan cepat dan murah untuk mengganti sistem pemerintahan di Iran, dan kini mereka terjebak dalam upaya pembenaran atas agresi yang tidak efektif. Ia juga meremehkan apa yang disebut AS sebagai “Rencana B”, yang diprediksinya akan menjadi kegagalan yang jauh lebih memalukan bagi Gedung Putih.

Mengenai serangan terhadap pangkalan-pangkalan Amerika di kawasan Teluk, Araqchi menjelaskan bahwa target Iran adalah fasilitas militer AS, bukan negara-negara tetangga tempat pangkalan tersebut berada. Ia mengakui adanya potensi kerusakan kolateral, namun ia membandingkannya secara sinis dengan syahadah lebih dari 70.000 warga Palestina di Gaza oleh Israel yang selalu dianggap sebagai kerusakan kolateral oleh Barat. Sementara itu, terkait status Selat Hormuz, Araqchi mengklarifikasi bahwa secara teknis selat tersebut belum ditutup secara total oleh pemerintah, namun lalu lintas kapal tanker terhenti karena ketakutan para operator akan menjadi sasaran konflik. Meski saat ini belum ada niat resmi untuk menutup permanen jalur tersebut, Iran tetap mempertimbangkan skenario itu jika perang terus berlanjut.

Di sisi domestik dan diplomasi internasional, Araqchi memastikan bahwa roda pemerintahan Iran tetap berjalan stabil pasca-syahadah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Ia menyatakan bahwa pengganti para pemimpin yang gugur telah ditunjuk dan pemilihan pemimpin negara yang baru akan segera dilakukan sesuai mekanisme konstitusi. Araqchi juga mengonfirmasi dukungan politik yang kuat dari Rusia dan Tiongkok, serta menegaskan bahwa kerja sama militer dengan Rusia bukanlah rahasia dan akan terus berlanjut. Di akhir pernyataannya, ia mengecam penenggelaman kapal tak bersenjata di Samudra Hindia oleh pihak agresor sebagai kejahatan perang, mengingat kapal tersebut tidak membawa perwira terlatih maupun persenjataan.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Jerusalem Post