Kesaksian para tentara Israel yang dipublikasikan oleh surat kabar Yediot Aharonot pada hari Selasa, 3 Maret 2026, mengungkap fakta mengejutkan mengenai minimnya peralatan pelindung dan infrastruktur keamanan di sejumlah pangkalan militer mereka. Para tentara mengonfirmasi bahwa setiap kali rudal diluncurkan dari Iran, mereka terpaksa berdesakan di dalam tempat perlindungan (bunker) yang kapasitasnya sangat terbatas. Lebih memprihatinkan lagi, sebagian besar prajurit terpaksa berbaring di parit-parit terbuka yang tidak terlindungi, sementara tentara wanita di unit pengawas tetap berada di ruang operasi yang tidak berbenteng dengan hanya bermodalkan helm dan tameng pelindung. Salah satu rekrutan wanita menyatakan bahwa mereka harus mempertaruhkan nyawa dan hanya bisa berdoa setiap kali serangan udara terjadi.
Kondisi infrastruktur yang tidak memadai ini dilaporkan terjadi bahkan di pangkalan pelatihan yang menampung ratusan hingga ribuan personel. Testimoni tentara menyebutkan bahwa beberapa pangkalan tidak memiliki bunker yang cukup untuk menampung seluruh prajurit, sehingga sebagian besar personel dibiarkan tanpa perlindungan memadai saat sirine serangan udara berbunyi. Selain itu, dilaporkan bahwa di beberapa lokasi, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai posisi yang dibentengi bisa memakan waktu hingga lima belas menit dengan kendaraan, sebuah durasi yang sangat berisiko dalam situasi serangan rudal balistik. Hal ini memicu kemarahan besar dari keluarga para tentara yang mempertanyakan mengapa pemerintah sangat agresif dalam menyerang namun gagal melindungi anak-anak mereka di pangkalan sendiri.
Menanggapi situasi perang yang kian meluas, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam wawancaranya dengan Fox News pada hari Selasa, 3 Maret 2026, menyatakan bahwa Israel tidak akan melakukan perang tanpa akhir. Meski demikian, ia tetap menegaskan keyakinannya bahwa perdamaian antara Arab Saudi dan Israel akan tetap memungkinkan “berkat tindakan tegas yang diambil terhadap Iran.” Pernyataan ini muncul di tengah tekanan domestik yang menuntut penguatan benteng ruang operasi dan perlindungan bagi tentara garda depan yang kini menjadi sasaran empuk serangan udara Iran.
Di pihak lawan, Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran memberikan peringatan keras sebagai respons atas berlanjutnya agresi Amerika-Israel. Dalam pernyataannya pada hari Selasa, 3 Maret 2026, Pasukan Quds menegaskan komitmennya untuk terus menjaga “gerbang api tetap terbuka terhadap musuh” dan bersumpah tidak akan beristirahat hingga musuh berhasil dikalahkan. Mereka memperingatkan bahwa musuh tidak akan pernah merasa aman bahkan di rumah mereka sendiri, serta menyatakan bahwa masa-masa tenang bagi pihak agresor telah berakhir. Ancaman ini mempertegas posisi para fuqaha dan pimpinan militer di Teheran yang kini menerapkan strategi serangan berkesinambungan sebagai balasan atas syahadah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Politico


