Uni Emirat Arab (UEA) dan Qatar secara rahasia dilaporkan tengah memberikan tekanan diplomatik kepada sekutu mereka, termasuk Amerika Serikat, guna membentuk koalisi luas demi mencapai solusi diplomatik cepat atas konflik yang terjadi. Berdasarkan laporan sumber yang dikutip oleh Bloomberg pada hari Senin, 2 Maret 2026, langkah ini diambil untuk menghindari eskalasi regional lebih lanjut serta mencegah guncangan jangka panjang terhadap harga energi global. Tekanan dari Abu Dhabi dan Doha ini bertujuan untuk membujuk Presiden AS Donald Trump agar membatasi operasi militer terhadap Iran dalam skala jangka pendek saja, mengingat kekacauan yang mulai melanda sektor energi dunia.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan, sebab harga gas alam di Amerika Serikat mencatat lonjakan signifikan sebesar 7,4% pada awal perdagangan hari Senin, 2 Maret 2026. Penilaian internal dari Qatar memperingatkan bahwa jika jalur pelayaran di kawasan terus terganggu hingga pertengahan minggu ini, maka reaksi pasar terhadap harga gas alam akan jauh lebih tajam dibandingkan kenaikan saat ini. Situasi ini diperparah dengan gangguan di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20% konsumsi minyak harian dunia, akibat agresi yang dimulai sejak Sabtu lalu. Selain upaya diplomatik, kedua negara Teluk tersebut juga bergerak cepat meningkatkan kapabilitas pertahanan mereka; UEA meminta bantuan pertahanan udara jarak menengah, sementara Qatar fokus pada penanggulangan serangan drone yang kini dianggap lebih mengancam daripada rudal balistik. Laporan mengejutkan menyebutkan bahwa stok rudal pencegat Patriot milik Qatar diperkirakan hanya akan bertahan selama empat hari jika tingkat penggunaan saat ini terus berlanjut.
Di sisi lain, perpecahan terjadi di antara sekutu Barat terkait agresi pimpinan Donald Trump. Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, dalam pidatonya di hadapan Parlemen Inggris pada hari Senin, 2 Maret 2026, mengungkapkan bahwa Presiden Trump menentang keputusan London untuk tidak terlibat dalam serangan awal terhadap Iran. Starmer menegaskan bahwa tugasnya adalah menilai kepentingan nasional Inggris, seraya menyatakan dengan tegas bahwa pemerintah Inggris tidak percaya pada upaya “perubahan rezim dari langit”. Posisi ini memperkuat sikap Menteri Pertahanan Inggris yang bulan lalu juga menentang penggunaan pangkalan Diego Garcia di Samudra Hindia untuk aksi militer terhadap Iran.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, memberikan pernyataan senada pada hari Senin, 2 Maret 2026, dengan menegaskan bahwa aliansi tersebut sama sekali tidak memiliki rencana untuk mengintervensi perang melawan Iran secara kolektif. Meski demikian, Rutte menyatakan kepada saluran Jerman ARD di Brussels bahwa NATO mempersilakan anggota sekutu secara individu untuk mendukung tindakan Amerika Serikat dan Israel, yang ia anggap penting untuk melemahkan kemampuan nuklir dan rudal balistik Iran. Meskipun para pimpinan militer dan dewan fuqaha di Teheran terus melaporkan keberhasilan serangan balasan mereka, tekanan dari negara-negara tetangga dan ketidaksediaan sekutu utama seperti Inggris untuk terlibat penuh menunjukkan adanya keretakan besar dalam koalisi internasional pimpinan Washington.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: Al Jazeera



