Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah Selat Hormuz, jalur ekspor minyak paling vital di dunia, mengalami penutupan secara de facto menyusul serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke berbagai wilayah Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Komandan Korps Garda Revolusi Islam, Ibrahim Jabari, menegaskan dalam pernyataannya kepada Al-Mayadeen bahwa penutupan selat ini merupakan realisasi dari janji militer Iran jika negara mereka diserang. Meskipun secara fisik perairan tersebut masih terbuka bagi beberapa kapal, siaran frekuensi tinggi dari Angkatan Laut Iran kini secara tegas melarang segala bentuk pelintasan di area tersebut. Hal ini dikonfirmasi oleh misi maritim Eropa, Aspidis, yang melaporkan adanya pesan-pesan peringatan dari pihak Iran kepada kapal-kapal dagang yang berada di sekitar kawasan Teluk.
Reaksi pasar pelayaran internasional segera menunjukkan kepanikan besar ketika raksasa galangan kapal Jepang, Nippon Yusen, memberikan instruksi tegas kepada seluruh armadanya untuk tidak berlayar melalui Selat Hormuz. Langkah ini diikuti oleh pemerintah Yunani yang mendesak armada dagang masifnya untuk meninjau kembali setiap rencana pelintasan di jalur sempit tersebut. Berdasarkan data pelacakan maritim, tumpukan kapal tanker minyak mulai terjadi di pintu masuk selat, baik dari arah dalam maupun luar, karena mayoritas pemilik kapal memilih sikap sangat berhati-hati pasca-pemboman Iran oleh pihak sekutu. Administrasi Maritim Amerika Serikat bahkan telah mengeluarkan anjuran resmi bagi kapal komersialnya untuk menjauh dari kawasan Teluk dan menghindari wilayah tersebut sebisa mungkin guna mencegah risiko serangan langsung.
Kondisi keamanan di lapangan semakin memburuk seiring dengan berlanjutnya aksi saling balas di wilayah udara. Komandan Markas Khatam al-Anbiya, Ali Abdollahi, menyatakan melalui rekaman audio kepada rakyat Iran bahwa Teheran memegang kendali penuh untuk menentukan kapan pertempuran ini berakhir. Ia mengeklaim bahwa kerusakan besar telah dialami oleh Amerika Serikat dan entitas Zionis sebagai dampak dari respons militer Iran yang terus berlanjut. Sementara itu, Operasi Perdagangan Maritim Inggris mengonfirmasi telah menerima berbagai laporan mengenai penutupan selat tersebut dari kapal-kapal yang terjebak di wilayah konflik.
Hingga Sabtu sore, skala pertempuran terus meluas dengan laporan dari media Israel yang mencatat peluncuran sekitar 220 rudal dari wilayah Iran menuju sasaran-sasaran di Israel serta pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara Teluk. Peringatan keras dari Ali Abdollahi bahwa Iran akan membuat musuh menyesali tindakannya tercermin dari intensitas serangan rudal yang tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Krisis ini tidak hanya mengancam keamanan fisik di kawasan, tetapi juga menempatkan stabilitas ekonomi global dalam bahaya besar mengingat ketergantungan dunia pada arus energi yang melewati Selat Hormuz yang kini lumpuh total.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: The Federal



