Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan pada Sabtu, 28 Februari 2026, bahwa serangan balasan yang dilancarkan militer Iran terhadap pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat dan Israel merupakan tindakan bela diri yang sepenuhnya legal dan sah menurut hukum internasional. Dalam wawancara dengan NBC News, Abbas Araqchi menegaskan bahwa Iran memiliki kapabilitas penuh untuk mempertahankan kedaulatannya tanpa bantuan pihak luar. Ia mengakui bahwa meskipun Iran memiliki pengalaman pahit dalam bernegosiasi dengan Amerika Serikat, Teheran tetap terbuka untuk pembicaraan dengan syarat seluruh agresi militer harus dihentikan terlebih dahulu sebagai langkah de-eskalasi.
Abbas Araqchi memberikan kepastian mengenai kondisi para petinggi negara pasca-serangan udara yang menyasar pusat pemerintahan di Teheran. Ia mengonfirmasi bahwa Pemimpin Besar Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Yudikatif Mohseni Ejei, serta Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi semuanya berada dalam kondisi selamat. Meskipun demikian, ia mengakui adanya kehilangan satu atau dua komandan militer yang gugur dalam agresi tersebut. Terkait isu nuklir, ia menegaskan kembali bahwa Iran tidak akan pernah melepaskan hak nasionalnya, termasuk hak pengayaan uranium, namun tetap melihat adanya peluang kesepakatan untuk menjamin sifat damai dari program nuklir mereka.
Di panggung diplomasi internasional, Kementerian Luar Negeri China menyatakan keprihatinan yang mendalam atas serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran. Beijing menekankan bahwa kedaulatan nasional, keamanan, dan integritas wilayah Iran harus dihormati oleh semua pihak guna mencegah kehancuran total stabilitas di Timur Tengah. Sebagai langkah konkret, China bersama Rusia secara resmi telah menyerukan penyelenggaraan pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB untuk membahas eskalasi perang yang sedang berlangsung.
Pemerintah Rusia melalui pernyataan diplomatiknya menuntut agar Amerika Serikat dan Israel segera menghentikan eskalasi militer terhadap Iran. Rusia berencana menggunakan forum Dewan Keamanan PBB mendatang untuk mendesak penghentian serangan guna menghindari konfrontasi regional yang lebih luas. Gelombang serangan balik Iran yang menghantam pangkalan-pangkalan utama Amerika Serikat di Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Bahrain, serta wilayah pendudukan Israel, kini menjadi fokus utama keprihatinan global karena dianggap dapat memicu perang terbuka yang melampaui batas-batas negara tersebut.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: Caspian Post


