Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah semakin tidak terkendali setelah serangan udara yang menargetkan wilayah Jurf al-Nasr, sebelah utara Provinsi Babel, Irak, pada Sabtu siang, 28 Februari 2026. Serangan yang terjadi sekitar pukul 11.50 waktu setempat tersebut menyebabkan dua prajurit dari Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) atau al-Hashd al-Shaabi tewas dan tiga lainnya mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan yang berbeda. Pihak PMF segera mengambil langkah-langkah untuk menentukan keadaan di lokasi kejadian dan menilai kerusakan yang ditimbulkan, sementara unit lapangan tetap dalam kewaspadaan tinggi.
Agresi terhadap Irak ini terjadi secara paralel dengan serangan besar-besaran Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Ketegangan di wilayah Irak juga meningkat dengan adanya ledakan di dekat konsulat Amerika Serikat di Erbil, wilayah Kurdistan. Laporan lapangan menunjukkan bahwa Bandara Erbil menjadi sasaran serangan, yang memicu aktivasi sistem pertahanan udara Amerika Serikat untuk menghalau rudal-rudal yang masuk. Merespons serangan di wilayahnya, Komando Operasi Kataib Hezbollah di Irak telah bersumpah untuk segera meluncurkan serangan balasan terhadap pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di negara tersebut. Di tengah krisis ini, Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani melakukan kunjungan mendadak ke Markas Komando Operasi Gabungan untuk memantau situasi keamanan nasional secara langsung.
Dari Yaman, Kementerian Luar Negeri di bawah pemerintahan Sana’a mengutuk keras agresi Amerika-Israel tersebut. Mereka menegaskan bahwa Iran memiliki hak penuh untuk membela diri dan melakukan pembalasan sesuai dengan hukum internasional. Sana’a menyatakan bahwa Iran saat ini sedang memimpin pertempuran bagi umat Islam melawan agresi global yang direpresentasikan oleh kekuatan Amerika Serikat dan Israel. Pihak Yaman juga mengecam keras tindakan beberapa negara Arab yang justru mengerahkan militer mereka untuk mencegat rudal-rudal Iran yang menargetkan pangkalan Amerika Serikat, dan menyebut tindakan tersebut sebagai langkah yang memalukan.
Dewan Politik Tertinggi di Yaman menambahkan bahwa agresi terhadap Iran adalah langkah sistematis dari proyek Amerika-Zionis untuk memaksakan hegemoni total di Timur Tengah. Mereka memperingatkan bahwa upaya untuk merusak persamaan pencegahan Iran hanya akan memperluas lingkaran konflik dan memperkuat perlawanan regional. Biro Politik gerakan Ansar Allah menegaskan solidaritas tak tergoyahkan mereka dengan rakyat, militer, dan pemerintah Iran, seraya mengingatkan bahwa siapa pun yang menganggap agresi ini hanya terbatas pada Iran telah melakukan kesalahan besar, karena target sebenarnya adalah kedaulatan seluruh bangsa di kawasan tersebut.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: Alhurra



