Amerika Serikat dan entitas pendudukan Israel melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap Republik Islam Iran pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026. Serangan udara dan laut yang terkoordinasi ini menargetkan berbagai objek vital di ibu kota Teheran serta beberapa provinsi lainnya. Koresponden Al-Mayadeen melaporkan bahwa ledakan hebat mengguncang pusat ibu kota, dengan rudal-rudal yang dilaporkan jatuh di Jalan Daneshgah dan kawasan Jomhouri, yang merupakan area perkantoran pemerintah serta dekat dengan kediaman Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Selain Teheran, ledakan juga dilaporkan terjadi secara serentak di kota-kota besar lainnya seperti Isfahan, Qom, Tabriz, Karaj, Kermanshah, dan Lorestan.
Menteri Pertahanan Israel Yisrael Katz mengumumkan dimulainya operasi yang ia sebut sebagai “serangan pendahuluan” untuk menetralisir ancaman terhadap Israel. Pihak militer Israel mengeklaim operasi ini telah direncanakan selama berbulan-bulan dan dikoordinasikan sepenuhnya dengan Washington. Presiden Amerika Serikat Donald Trump, melalui pernyataan video di platform Truth Social, mengonfirmasi bahwa Amerika Serikat telah memulai “operasi tempur besar” di Iran dengan tujuan menghancurkan industri rudal serta angkatan laut Iran. Donald Trump juga secara terbuka menyerukan perubahan rezim dan mendesak rakyat Iran untuk mengambil alih kendali atas pemerintahan mereka. Laporan dari New York Times menyebutkan bahwa puluhan pesawat tempur Amerika Serikat dikerahkan dari pangkalan-pangkalan di Timur Tengah serta kapal induk untuk menggempur wilayah Iran.
Menanggapi agresi tersebut, juru bicara Organisasi Penerbangan Sipil Iran, Majid Akhavan, mengumumkan penutupan seluruh wilayah udara Iran hingga pemberitahuan lebih lanjut. Kementerian Kesehatan Iran melalui juru bicaranya, Hossein Kermanpour, menyatakan bahwa seluruh rumah sakit telah dalam status siaga tinggi dan ambulans dikerahkan ke titik-titik ledakan di pusat Teheran. Meskipun jumlah korban jiwa dan kerusakan bangunan secara rinci belum diumumkan secara resmi, rekaman video yang beredar menunjukkan kolom asap hitam membubung tinggi di langit Teheran serta bangunan-bangunan yang mengalami kerusakan berat.
Situasi di kawasan Timur Tengah kini berada di ambang perang regional yang luas. Iran segera membalas dengan meluncurkan gelombang rudal dan drone ke arah wilayah pendudukan Israel serta menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di Teluk. Bahrain mengonfirmasi bahwa pusat layanan Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat menjadi sasaran serangan rudal, sementara Qatar melaporkan adanya intersepsi rudal di atas wilayahnya. Serangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah putaran ketiga negosiasi nuklir tidak langsung di Jenewa yang sempat disebut mengalami kemajuan, namun kini jalur diplomasi tersebut tampak telah tertutup oleh eskalasi militer yang sangat destruktif.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Al Jazeera



