Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio memberikan pengarahan tertutup kepada para pemimpin Kongres Amerika Serikat, yang dikenal sebagai “Geng Delapan” (Gang of Eight), mengenai perkembangan terkini terkait Iran pada Selasa, 24 Februari 2026. Menurut laporan surat kabar Israel Israel Hayom, fokus utama Marco Rubio dalam pertemuan tersebut adalah ancaman rudal balistik Iran yang dianggap sebagai sumber kekhawatiran paling menonjol bagi pemerintahan Donald Trump saat ini, bahkan melebihi isu nuklir dalam presentasi tersebut. Langkah ini dipandang sebagai upaya untuk menggalang dukungan politik domestik bagi kemungkinan eskalasi militer di masa depan.
Struktur kepemimpinan “Geng Delapan” ini mencakup tokoh-tokoh senior dari kedua partai di DPR dan Senat, termasuk Ketua serta anggota senior Komite Intelijen dan Urusan Luar Negeri. Meski demikian, pengarahan tersebut tampaknya gagal meyakinkan para pemimpin Partai Demokrat. Pemimpin minoritas di DPR dan Senat telah mengumumkan niat mereka untuk mengajukan rancangan undang-undang (RUU) yang mewajibkan Presiden Donald Trump mendapatkan persetujuan Kongres sebelum mengambil tindakan militer apa pun terhadap Iran. Dalam pernyataan bersama, Partai Demokrat menekankan bahwa setiap “perang pilihan” di Timur Tengah tanpa penilaian risiko yang komprehensif bagi tentara Amerika Serikat adalah langkah yang ceroboh dan tidak konstitusional jika dilakukan tanpa izin legislatif.
Namun, estimasi di tingkat Senat menunjukkan bahwa RUU tersebut memiliki peluang kecil untuk lolos menjadi undang-undang mengingat komposisi kekuatan politik saat ini, meskipun ada dukungan dari beberapa politisi Republik yang skeptis. Dinamika ini menunjukkan bahwa isu Iran telah menjadi arena persaingan internal yang tajam di Amerika Serikat, di mana dimensi keamanan nasional berpotongan langsung dengan kalkulasi politik menjelang pemilihan paruh waktu.
Di sisi lain, Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance mencoba meredam kekhawatiran publik dengan menyatakan bahwa tidak ada kemungkinan serangan potensial terhadap Iran akan menyeret Amerika Serikat ke dalam perang jangka panjang yang berlangsung bertahun-tahun. J.D. Vance menegaskan bahwa meskipun opsi diplomatik tetap menjadi pilihan utama bagi semua pihak, kelanjutan proses tersebut sangat bergantung pada tindakan dan pernyataan pihak Iran di masa mendatang.
Selain itu, J.D. Vance juga memberikan komentar terkait posisi Duta Besar Amerika Serikat di Tel Aviv yang mendukung konsep “Israel Raya” (Greater Israel), dengan menyebutnya sebagai sebuah perkembangan yang positif. Pernyataan-pernyataan ini muncul di tengah ketegangan yang terus memuncak antara Washington dan Teheran, serta perdebatan sengit di dalam negeri Amerika Serikat mengenai batasan keterlibatan militer dan peluang untuk kembali sepenuhnya ke jalur diplomasi.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: New York Times



