Skip to main content

akil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance menyatakan pada hari Rabu, 25 Februari 2026, bahwa Presiden Donald Trump tetap memprioritaskan solusi diplomatik dalam menghadapi Iran. Dalam sebuah wawancara dengan Fox News, J.D. Vance menjelaskan bahwa Donald Trump telah menegaskan sikapnya bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan presiden akan berupaya mencapai tujuan tersebut melalui jalur diplomasi. J.D. Vance menambahkan bahwa Donald Trump berharap pihak Iran akan menanggapi masalah ini secara serius dalam negosiasi yang dijadwalkan berlangsung pada hari Kamis, 26 Februari 2026.

Menurut J.D. Vance, upaya mencegah Iran memperoleh senjata nuklir merupakan tujuan militer utama jika pada akhirnya Donald Trump memilih jalur kekuatan bersenjata, meskipun ia menekankan bahwa jalur diplomatik adalah opsi yang lebih disukai oleh pemerintah Amerika Serikat. J.D. Vance mencatat bahwa Donald Trump memiliki tekad kuat untuk menghalangi kepemilikan senjata nuklir oleh Iran, baik melalui diplomasi maupun dengan cara-cara lain. Di sisi lain, pemerintah Teheran terus menekankan perlunya penyelesaian diplomatik atas masalah nuklir tersebut sembari menegaskan sifat damai dari program mereka dan menyatakan penolakan untuk tunduk pada dikte Amerika Serikat maupun tekanan militer.

Pemimpin Minoritas Senat Amerika Serikat Chuck Schumer turut memberikan tanggapan dengan menggambarkan situasi yang semakin memanas antara negaranya dan Iran sebagai kondisi yang berbahaya. Tokoh senior dari Partai Demokrat tersebut mendesak pemerintah untuk memberikan klarifikasi mengenai posisi Amerika Serikat dalam masalah ini kepada rakyat. Sementara itu, negosiasi yang dijadwalkan pada hari Kamis di Jenewa, Swiss, merupakan putaran ketiga dari mediasi yang dipimpin oleh Oman. Langkah ini menyusul putaran pertama yang diadakan di Muskat pada 6 Februari 2026 dan putaran kedua di Jenewa pada 17 Februari 2026.

Pada hari Rabu, 25 Februari 2026, Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan penambahan sejumlah individu, lembaga, dan kapal asal Iran ke dalam daftar sanksi mereka. Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri di bawah Departemen Keuangan menjatuhkan sanksi kepada lebih dari 30 pihak yang dituduh berkontribusi pada penjualan minyak Iran secara ilegal serta membantu produksi rudal balistik dan senjata konvensional canggih. Sanksi tersebut secara spesifik mengidentifikasi 16 institusi dan 12 kapal tanker Iran, termasuk beberapa warga negara Iran yakni Mohammad Abedini, Mehrdad Jafari, Ibrahim Shariazadeh, dan Mehdi Zand.

Penerapan sanksi dan pernyataan keras dari pejabat Amerika Serikat ini muncul di tengah meningkatnya pembangunan kekuatan militer Washington di kawasan Timur Tengah, yang dibarengi dengan rumor mengenai kemungkinan serangan Amerika Serikat terhadap Iran. Di tengah ketegangan tersebut, para pejabat dari kedua negara diharapkan tetap mengikuti putaran ketiga negosiasi nuklir tidak langsung di Jenewa pada hari Kamis. Sebagai respons atas situasi keamanan yang berkembang, Garda Revolusi Iran telah memulai manuver militer di pesisir selatan negara itu, di mana pasukan angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam Iran mengadakan latihan gabungan yang mensimulasikan menghadapi ancaman nyata.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Reuters