Pemimpin gerakan Hamas Mahmoud Mardawi memberikan pernyataan keras pada Selasa, 24 Februari 2026, mengenai kondisi yang semakin memburuk di dalam penjara-penjara entitas pendudukan Israel, khususnya di penjara Negev. Mahmoud Mardawi menegaskan bahwa eskalasi pelecehan, penelantaran medis, serta perampasan kebutuhan dasar hidup seperti makanan dan minuman yang dialami para tahanan selama bulan suci Ramadan ini bukanlah kejadian kebetulan. Menurutnya, hal tersebut merupakan bagian dari pendekatan agresif resmi yang diadopsi oleh pemerintah penjajah Israel dengan tujuan untuk mematahkan kemauan serta merusak keteguhan hati para tahanan Palestina. Ia menekankan bahwa otoritas pendudukan memikul tanggung jawab penuh atas segala dampak dari eskalasi berbahaya ini, terutama terhadap nyawa para tahanan yang sedang sakit maupun mereka yang sudah lanjut usia.
Mahmoud Mardawi memperingatkan adanya ancaman ledakan situasi di dalam penjara jika kebijakan represif ini terus berlanjut. Ia menyatakan bahwa penargetan terhadap para tahanan melalui kebijakan penindasan semacam ini tidak akan pernah berhasil menundukkan mereka, melainkan justru akan semakin memperkuat keteguhan hati para pejuang di balik jeruji besi. Bagi rakyat Palestina, para tahanan merupakan simbol martabat bangsa dan perlambang perlawanan yang hidup dalam menghadapi kekejaman sipir penjara. Mahmoud Mardawi juga menyerukan kepada seluruh masyarakat di Tepi Barat, Yerusalem yang diduduki, wilayah Palestina tahun 1948, serta seluruh pendukung kemerdekaan untuk meningkatkan aktivitas massa dan menyulut arena konfrontasi di berbagai titik guna mendukung para tahanan agar mereka dan keluarga mereka tidak merasa berjuang sendirian di tengah keadaan yang sangat sulit ini.
Kekhawatiran Mahmoud Mardawi tersebut diperkuat oleh data terbaru yang dirilis oleh Perhimpunan Tahanan Palestina (Palestinian Prisoners Club) pada Senin, 23 Februari 2026. Lembaga tersebut mengumumkan bahwa pasukan pendudukan Israel telah menangkap lebih dari 100 warga sipil dari berbagai wilayah di Tepi Barat sejak dimulainya bulan suci Ramadan tahun ini. Gelombang penangkapan massal tersebut dilaporkan menyasar berbagai kalangan, termasuk perempuan, anak-anak, serta sejumlah mantan tahanan yang sebelumnya sudah pernah dibebaskan. Peningkatan jumlah penangkapan di tengah bulan suci ini dinilai sebagai upaya sistematis untuk memberikan tekanan psikologis dan sosial yang lebih besar kepada masyarakat Palestina di tengah ketegangan regional yang juga sedang memuncak.
Situasi di penjara Negev sendiri dilaporkan menjadi titik paling kritis, di mana pembatasan terhadap akses ibadah dan penyediaan makanan sahur serta buka puasa yang layak bagi para tahanan telah memicu gelombang protes internal. Mahmoud Mardawi menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa kebijakan yang diterapkan Israel saat ini merupakan bentuk pelanggaran nyata terhadap hak asasi manusia dan konvensi internasional mengenai perlakuan terhadap tawanan perang serta tahanan politik, yang menuntut perhatian segera dari lembaga-lembaga kemanusiaan dunia sebelum situasi di dalam sel-sel tahanan berubah menjadi konflik fisik yang tak terkendali.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Saba



