Skip to main content

Dr. Samir Shohani, seorang pakar urusan Iran, mengonfirmasi bahwa Teheran akan menyodorkan draf proposal baru melalui mediator Oman pada pekan ini dengan fokus pada tiga poin krusial. Poin utama yang menjadi harga mati bagi Iran adalah keberlanjutan hak pengayaan uranium sebagai inti masalah, bukan sekadar perdebatan mengenai tingkat persentasenya. Sumbu kedua dalam draf tersebut menyangkut jumlah dan jenis mesin sentrifugasi; Iran telah secara signifikan meningkatkan jumlah perangkat serta mengoperasikan generasi terbaru pasca keluarnya Amerika Serikat dari perjanjian nuklir terdahulu. Poin ketiga mencakup tuntutan jadwal yang transparan mengenai pencabutan embargo ekonomi terhadap Iran, sebagai imbalan atas jaminan teknis yang dapat diberikan oleh Teheran dalam kerangka kesepakatan potensial.

Terdapat kontradiksi yang mencolok antara retorika politik Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan fakta di meja perundingan. Menurut Dr. Shohani, isu “nol pengayaan” (zero enrichment) sebenarnya tidak pernah dimunculkan oleh delegasi perunding Amerika Serikat, meskipun secara publik narasi tekanan tetap kencang. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mempertegas posisi tersebut dengan menyatakan bahwa kesepakatan yang saling menguntungkan (win-win agreement) hanya mungkin tercapai jika Amerika Serikat menerima kenyataan bahwa program nuklir Iran tetap bertujuan damai. Ia membantah adanya pembahasan mengenai penghentian atau penghapusan total aktivitas pengayaan, serta menegaskan bahwa Iran tidak pernah mengajukan usulan penangguhan pengayaan untuk jangka waktu tiga maupun lima tahun sebagaimana isu yang beredar.

Di sisi lain, ancaman militer tetap membayangi jalur diplomasi ini. Berdasarkan laporan dari situs berita Axios yang mengutip pejabat tinggi Gedung Putih, Presiden Amerika Serikat Donald Trump hingga saat ini belum mengambil keputusan final untuk melancarkan serangan militer ke Iran. Namun, ia tetap membuka segala opsi di atas meja dan dapat mengambil keputusan untuk menyerang kapan saja. Ketidakpastian ini menciptakan tekanan psikologis di tengah proses penyusunan kerangka negosiasi, di mana Iran bersikeras menolak segala bentuk penghentian pengayaan uranium sambil tetap bersiap menghadapi kemungkinan agresi bersenjata dari pihak Washington.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Al Jazeera