Program nuklir Iran menjadi fokus konsultasi diplomatik intensif di Wina, di mana Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi bertemu dengan para duta besar dari Iran, Rusia, dan Tiongkok untuk organisasi internasional pada hari Rabu, 18 Februari 2026. Pertemuan ini bertujuan untuk menyelaraskan posisi ketiga negara tersebut mengenai perkembangan terkini terkait berkas nuklir Iran, sekaligus merespons hasil putaran kedua negosiasi tidak langsung antara Teheran dan Washington yang baru saja usai di Jenewa.
Dalam pertemuan di markas besar IAEA tersebut, para duta besar dari ketiga negara menyerahkan sebuah surat bersama atau aide-memoire kepada Rafael Grossi. Surat tersebut menegaskan posisi kolektif mereka mengenai pentingnya koordinasi dan interaksi bersama dalam menangani isu-isu teknis maupun politik yang berkaitan dengan aktivitas nuklir Iran. Langkah diplomasi trilateral ini mencerminkan upaya Teheran, Moskow, dan Beijing untuk membentuk front yang solid menjelang sesi Dewan Gubernur IAEA mendatang, terutama di tengah dinamika negosiasi paralel dengan Amerika Serikat.
Dukungan internasional terhadap proses diplomasi ini juga diperkuat melalui komunikasi langsung antara Rafael Grossi dan Menteri Luar Negeri Iran Sayyid Abbas Araghchi pada hari Rabu. Dalam percakapan telepon tersebut, Rafael Grossi memberikan penilaian positif terhadap hasil pertemuan di Jenewa dan menyatakan kesiapan badan pengawas nuklir PBB tersebut untuk memberikan dukungan teknis serta kerja sama yang diperlukan dalam penyusunan kerangka kerja negosiasi yang baru. Sayyid Abbas Araghchi sendiri mengonfirmasi bahwa Iran kini sedang mulai merancang draf awal yang koheren untuk kelanjutan pembicaraan dengan pihak Amerika Serikat.
Reaksi internasional terhadap perkembangan di Jenewa pun beragam, mulai dari sambutan yang berhati-hati hingga dukungan bersyarat. Kalangan diplomatik Eropa menilai bahwa Republik Islam Iran berhasil memaksakan sejumlah poin krusial dalam agenda perundingan, dan banyak pihak memprediksi bahwa putaran ketiga yang akan datang dapat menjadi titik balik bagi terobosan di beberapa isu buntu. Di sisi lain, media Ibrani terus memantau ketat perundingan Iran-Amerika Serikat ini sembari menyebarkan kekhawatiran mengenai kemungkinan serangan militer terhadap Iran, serangan Israel di Lebanon, serta krisis di Jalur Gaza.
Peneliti politik Zakaria Hamoudan memberikan catatan bahwa meskipun retorika ancaman perang sering kali muncul di permukaan, baik Teheran maupun Washington sebenarnya menunjukkan sikap positif terhadap hasil putaran kedua di Jenewa. Menurut Zakaria Hamoudan, kedua belah pihak menyadari bahwa konfrontasi militer secara terbuka tidak akan memberikan keuntungan bagi siapa pun, sehingga beralih ke tahap solusi politik melalui negosiasi menjadi pilihan yang paling rasional bagi stabilitas kawasan dan kepentingan nasional masing-masing negara.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Tehran Times



