Kantor Berita Tasnim melaporkan bahwa dalam sebuah pertemuan yang penuh antusiasme bersama ribuan warga Tabriz dan Azerbaijan Timur pagi tadi, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, menyebut tahun ini sebagai tahun yang unik dan penuh dengan peristiwa bersejarah. Beliau menilai kemenangan bangsa dalam Perang 12 Hari, keberhasilan menumpas fitnah besar pada bulan Januari, serta kehadiran mulia rakyat dalam dua pawai luar biasa pada 22 Januari dan 22 Februari sebagai tanda nyata dari otoritas serta vitalitas bangsa Iran. Beliau sangat menekankan pentingnya menjaga dan memperkuat kesiapan, kewaspadaan, serta persatuan nasional. Dalam nada yang penuh empati, beliau menyatakan bahwa selain para pemimpin dan elemen korup yang terhubung dengan musuh, negara menganggap semua korban kerusuhan—termasuk pasukan penjaga keamanan, warga sipil yang tidak bersalah, hingga mereka yang terpedaya dan terjebak dalam kekacauan karena kepolosan atau kemarahan—sebagai anak-anak bangsa sendiri, dan negara turut berduka serta merasa kehilangan atas mereka semua.
Ayatullah Sayyid Ali Khamenei juga mendesak pemerintah untuk melipatgandakan upaya dalam menyelesaikan berbagai persoalan, mengendalikan inflasi, serta menjaga stabilitas nilai tukar mata uang nasional. Menanggapi campur tangan dan ancaman terang-terangan dari pejabat serta media Amerika Serikat mengenai rencana penyerangan terhadap Iran, beliau menegaskan bahwa pihak asing sebenarnya sadar bahwa mereka tidak akan sanggup memikul konsekuensi dari kata-kata tersebut. Beliau memperingatkan bahwa sebuah tentara yang menganggap dirinya terkuat di dunia mungkin saja menerima tamparan yang begitu keras hingga tidak mampu bangkit kembali dari tempatnya. Di sisi lain, beliau meyakinkan bahwa lembaga-lembaga yang bertanggung jawab menghadapi ancaman telah bersiap sepenuhnya, sehingga masyarakat dapat tetap menjalankan pekerjaan dan kehidupan mereka dengan tenang serta penuh rasa percaya diri.
Pertemuan yang berlangsung menjelang peringatan kebangkitan rakyat Tabriz pada 19 Bahman 1356 ini menyoroti aspek ketepatan waktu, aksi nyata, dan pengorbanan sebagai ciri khas dari gerakan tersebut. Beliau mengapresiasi kehadiran generasi muda Azerbaijan di berbagai bidang dan menyatakan bahwa partisipasi ganda rakyat Tabriz dalam pawai 22 Bahman menunjukkan bahwa mereka, layaknya seluruh bangsa Iran, tetap hidup dan bersemangat. Beliau yakin bangsa yang demikian tidak akan pernah bisa ditipu oleh permainan politik maupun trik dari musuh. Lebih lanjut, beliau memandang tahun ini sebagai momentum yang berulang kali menyingkap keagungan, tekad, serta kemampuan bangsa Iran yang telah membuat negara ini bangga dan dihormati di mata dunia.
Dalam analisisnya mengenai kekacauan Januari, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menilai perlu untuk menjelaskan hakikat peristiwa tersebut dalam bahasa para pemikir dan analis. Beliau menegaskan bahwa apa yang terjadi bukanlah sekadar keresahan sekelompok anak muda atau orang tua yang marah, melainkan sebuah kudeta terencana yang akhirnya hancur di bawah kaki bangsa Iran. Beliau mengungkap bahwa badan intelijen Amerika Serikat dan rezim Zionis, dengan dukungan pihak asing lainnya, telah lama merekrut orang-orang dengan rekam jejak kriminal, memberikan mereka pelatihan, dana, dan senjata di luar negeri, lalu mengirim mereka ke dalam negeri untuk menyerang pusat-pusat militer dan pemerintah saat kesempatan itu muncul di pertengahan Januari.
Langkah lain yang dilakukan para dalang fitnah tersebut adalah memengaruhi orang-orang yang kurang berpengalaman. Beliau menyebut bahwa elemen-elemen terlatih mendorong individu-individu tersebut ke depan, sementara mereka sendiri bergerak dengan senjata dan kebijakan kekerasan yang brutal. Layaknya ISIS, mereka melakukan pembakaran dan pembunuhan dengan kekejaman yang tidak wajar demi menggoyahkan fondasi sistem negara. Namun, pasukan keamanan, Basij, garda revolusi, serta sebagian besar rakyat berdiri teguh sehingga rencana kudeta tersebut gagal total meskipun telah memakan biaya yang sangat besar. Beliau menganggap pawai besar pada 22 Januari dan 22 Februari sebagai tanda-tanda ketuhanan yang harus dijaga keberhasilannya melalui kesiapan dan persatuan nasional yang kuat.
Terkait tumpahnya darah dalam kerusuhan, beliau menyatakan bahwa meski beberapa pemimpin fitnah akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Tuhan, kelompok korban lainnya tetap dianggap sebagai bagian dari rakyat Iran yang ditangisi negara. Beliau mengategorikan pasukan keamanan sebagai martir tertinggi, pejalan kaki yang tidak bersalah sebagai martir karena terjebak dalam skenario musuh, dan mereka yang terpedaya sebagai bagian dari anak bangsa yang juga layak mendapatkan rahmat serta ampunan Tuhan. Beliau bahkan menyebutkan adanya surat-surat penyesalan dari mereka yang sempat terperdaya namun tidak ditangkap. Merujuk pada fenomena ini, beliau memperingatkan adanya ancaman dari “ISIS baru” dan meminta semua pihak, terutama kaum muda, untuk lebih waspada terhadap saran atau informasi yang menyesatkan.
Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menekankan bahwa rakyat menuntut penuntutan dan hukuman tegas bagi kelompok utama perusuh yang korup. Beliau memprediksi bahwa rencana Amerika selanjutnya mungkin menggunakan pola serupa, namun beliau yakin setiap gerakan semacam itu akan dihancurkan oleh respons tegas rakyat. Beliau juga menggambarkan krisis di Amerika sebagai tanda keruntuhan kekaisaran mereka dan menegaskan bahwa masalah utama Amerika adalah keinginan mereka untuk menguasai kembali Iran. Merujuk pada prinsip Imam Husain bahwa orang seperti beliau tidak akan tunduk pada Yazid, beliau menegaskan bahwa bangsa Iran dengan budaya dan sejarahnya tidak akan pernah tunduk pada penguasa korup di Amerika Serikat. Beliau juga menyinggung skandal korupsi di “pulau yang memalukan” sebagai cerminan realitas peradaban Barat yang mulai terungkap ke permukaan.
Dalam hal pertahanan, beliau menegaskan bahwa kepemilikan senjata adalah sebuah keharusan bagi setiap bangsa agar tidak ditindas musuh. Beliau mengkritik campur tangan Amerika terkait rudal dan teknologi nuklir damai Iran sebagai tindakan yang tidak rasional dan mencampuri urusan domestik. Beliau mendukung slogan rakyat bahwa energi nuklir adalah hak yang tidak bisa diganggu gugat dan mengejek model negosiasi Amerika yang sudah menentukan hasil akhir di awal. Beliau menutup pesannya dengan perumpamaan bahwa Republik Islam kini telah tumbuh menjadi pohon yang sangat kokoh dan berbuah lebat yang mustahil untuk ditumbangkan. Beliau menginstruksikan pejabat untuk mengoptimalkan sumber daya alam guna memperbaiki kesejahteraan rakyat, sementara perwakilan wilayah Azerbaijan Timur menyatakan kesetiaan warga setempat untuk selalu berada di garis depan membela kepentingan nasional.
Sumber berita: Tasnim News Agency
Sumber gambar: Yenişafak



