Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat terkait kunjungan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, ke Washington. Melalui pernyataan di media sosial X pada hari Selasa, 10 Februari 2026, Ali Larijani menegaskan agar pihak Amerika tetap waspada terhadap peran destruktif yang dimainkan oleh pihak Zionis. Ia memperingatkan agar Amerika bertindak bijak dan tidak membiarkan Netanyahu mendikte atau memberikan saran mengenai kerangka kerja perundingan nuklir yang sedang berlangsung. Ali Larijani juga menyampaikan kepada televisi Iran bahwa entitas Zionis selama ini berupaya memaksakan hegemoninya di kawasan, namun keberadaan rudal-rudal Iran telah berhasil menempatkan posisi mereka kembali ke tempat yang semestinya.
Dalam kunjungannya ke Muscat, Ali Larijani memuji peran Sultan Oman yang dinilai memiliki posisi jelas dan sangat mendukung perluasan kerja sama ekonomi antara Teheran dan Muscat. Kedua belah pihak telah mengadakan berbagai diskusi ekonomi yang mencakup sektor investasi serta penyelesaian masalah-masalah yang selama ini tertunda di antara kedua negara. Di sela-sela kunjungannya tersebut, Ali Larijani juga bertemu dengan ketua delegasi negosiasi Yaman, Mohammed Abdul Salam, untuk membahas situasi terkini di kawasan.
Terkait proses diplomasi dengan Amerika Serikat, Ali Larijani menyatakan dalam wawancara dengan televisi Oman bahwa pihak Amerika sebenarnya telah sampai pada kesimpulan bahwa pembicaraan harus dibatasi secara eksklusif pada isu nuklir saja. Teheran menegaskan posisi yang terbuka untuk berdialog selama pembicaraan tersebut bersifat realistis. Ali Larijani menekankan bahwa sejak awal Iran meyakini perang bukanlah solusi atas sengketa kedua negara, dan masalah regional harus diselesaikan melalui jalur dialog. Namun, ia memberikan catatan tegas bahwa munculnya tuntutan tambahan di luar isu nuklir hanya akan menyebabkan kegagalan negosiasi dan mempersulit jalur pembicaraan di masa depan.
Kunjungan Benjamin Netanyahu ke Amerika Serikat untuk menemui Presiden Donald Trump pada hari Rabu, 11 Februari 2026, menjadi sorotan utama yang dikhawatirkan dapat memicu krisis. Netanyahu diketahui bersikeras bahwa setiap perundingan dengan Iran harus mencakup pembatasan rudal balistik dan penghentian dukungan terhadap sekutu-sekutu Teheran di kawasan. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, telah menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah menerima syarat “nol pengayaan” uranium. Pertemuan antara Trump dan Netanyahu ini terjadi tepat setelah putaran pertama negosiasi tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat dimulai di Muscat pekan lalu, di mana Iran tetap berkomitmen pada proses diplomasi demi mencapai kepentingan nasionalnya tanpa mengorbankan hak-hak dasar teknologinya.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Anadolu Agency


