Skip to main content

Pasukan pendudukan Israel kembali melakukan serangan berdarah di berbagai wilayah Jalur Gaza pada hari Senin, 9 Februari 2026, yang mengakibatkan kehancuran lebih lanjut pada infrastruktur sipil. Menurut laporan dari koresponden Al-Mayadeen, sebuah apartemen tempat tinggal di lingkungan Al-Nasr, dekat Sekolah Holy Family di sebelah barat Kota Gaza, menjadi sasaran bom yang menewaskan empat warga Palestina dan melukai banyak lainnya. Serangan ini terjadi hampir bersamaan dengan tewasnya seorang warga sipil di Beit Lahia, Gaza Utara, akibat tembakan langsung dari pasukan pendudukan saat mereka juga membombardir wilayah timur Kota Gaza secara intensif.

Kekerasan militer ini menyebar hingga ke sektor-sektor mata pencaharian warga yang paling dasar. Di wilayah timur Deir al-Balah, Gaza Tengah, seorang petani tewas akibat serangan militer Israel saat sedang bekerja di lahannya, sementara artileri berat terus menghantam kota Rafah tanpa henti. Di perairan selatan, tepatnya di lepas pantai Khan Yunis, kapal perang Israel melepaskan tembakan yang melukai seorang nelayan. Rentetan insiden ini merupakan bukti nyata eskalasi pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang terus dilakukan oleh pihak pendudukan, di mana mereka secara terang-terangan mengabaikan upaya para mediator internasional dan protokol kemanusiaan yang menuntut penghentian serangan terhadap warga sipil.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza merilis data statistik terbaru yang menggambarkan skala tragedi kemanusiaan ini dengan sangat mengerikan. Sejak awal agresi dimulai, jumlah warga yang gugur atau syahid kini telah melampaui 72.000 jiwa, sementara jumlah korban luka-luka melonjak drastis hingga lebih dari 171.661 orang. Kementerian menegaskan bahwa jumlah kematian yang dilaporkan sebenarnya belum mencakup semua korban, karena banyak jenazah yang masih tertahan di bawah reruntuhan bangunan atau tergeletak di jalanan tanpa bisa dievakuasi. Tim medis dan kru pertahanan sipil hingga saat ini masih gagal menjangkau para korban tersebut karena serangan yang terus berlangsung di area-area terdampak.

Situasi tetap mencekam hingga Selasa dini hari, 10 Februari 2026, ketika pasukan Israel kembali melepaskan tembakan di wilayah timur Khan Yunis dan melakukan operasi penghancuran bangunan secara besar-besaran di timur Kota Gaza. Di tengah laporan kekerasan lapangan ini, Reuters mengutip pejabat Gedung Putih yang menyebutkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menyatakan ketidaksetujuannya terhadap rencana Israel untuk menganeksasi atau mencaplok wilayah Tepi Barat. Meskipun ada pernyataan politik dari Washington, kenyataan di Gaza pada Senin kemarin tetap diwarnai dengan pemboman terhadap pemukiman, termasuk serangan di apartemen dekat Sekolah Holy Family yang menambah daftar panjang korban tak berdosa di Jalur Gaza.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Al Jazeera