Dalam sebuah wawancara mendalam yang disiarkan oleh Al Mayadeen pada Kamis, 5 Februari 2026, Sayyid Ali Ahmad Khomeini memberikan refleksi kritis mengenai perjalanan 47 tahun Revolusi Iran. Bertempat di kediaman bersejarah Imam Khomeini, dialog ini menyoroti keteguhan ideologis di tengah ancaman terhadap Republik Islam Iran yang kian meningkat.
Dalam sesi tanya jawab tersebut, Sayyid Ali Ahmad Khomeini menekankan pentingnya membedakan antara respon emosional manusiawi dengan prinsip keteguhan iman. Berikut adalah petikan dialog dari wawancara tersebut:
Al Mayadeen: Kita berada di tempat yang memiliki dimensi sejarah yang sangat kuat karena, sejauh yang saya pahami, ini adalah rumah kediaman Imam Khomeini dan di sini juga merupakan madrasah Anda. Terima kasih atas waktu Anda yang berharga. Kita saat ini berada dalam peringatan ke-47 untuk revolusi. Sayyid, apakah Anda melihat masa depan revolusi ini dengan optimisme, terlepas dari segala kerumitan dan masalah yang melingkupinya, atau Anda melihat dengan kekhawatiran yang sangat serius bagi masa depannya?
Sayyid Ali Ahmad Khomeini: Mengenai kekhawatiran, ya. Namun, mengenai rasa takut, tidak. Kekhawatiran tentu saja merupakan hal yang lumrah dan alami karena manusia jika mencintai sesuatu dan dia merasakan adanya ancaman serta adanya upaya-upaya untuk melenyapkan hal tersebut, maka tentu saja akan muncul kekhawatiran di dalam hatinya. Namun rasa takut sebagai sebuah sifat negatif, tidak. Rasa takut dalam arti bahwa kita takut kepada selain Allah, tidak. Karena jalan ini, jalan yang insya Allah sedang kita tempuh, adalah jalan yang awalnya adalah pengabdian dan akhirnya adalah kesyahidan. Tidak ada kekalahan di jalan ini dan sebagaimana ungkapan dalam Al-Qur’an: al-husnayain (dua kebaikan); entah kita menang atau kita menang. Oleh karena itu, tidak ada rasa takut.
Pewawancara: Mungkin hal ini pada level individu, namun bagaimana pada level bangsa-bangsa, masyarakat, revolusi, nilai-nilai, dan ideologi?
Sayyid Ali Ahmad Khomeini: Ya, benar. Saya berbicara tentang diri saya sendiri, namun saya ingin mengutip dan merujuk pada bait syair terkenal yang dinisbatkan kepada Amirul Mukminin yang pernah dibacakan oleh syahid Yahya Sinwar: “Pada hari mana dari dua hari kematian aku harus lari? Apakah pada hari yang tidak ditakdirkan, atau pada hari yang telah ditakdirkan? Pada hari yang tidak ditakdirkan, aku tidak takut padanya. Dan pada hari yang telah ditakdirkan, kewaspadaan tidak akan bisa menyelamatkan.”
Kewaspadaan yang tidak menyelamatkan ini adalah kehati-hatian yang tidak baik, yaitu rasa takut. Adapun kehati-hatian yang baik, yaitu ketika kita bekerja dengan rasionalitas dan dengan pemikiran, ini adalah hal yang benar. Oleh karena itu, menurut saya jawaban yang tepat yang bisa saya sampaikan kepada Anda adalah ya, kekhawatiran itu ada karena situasi saat ini sangat berbahaya. Seseorang bisa melihat sendiri, tidak mungkin dia berkata bahwa keadaan baik-baik saja dan sederhana serta sesuai keinginan. Namun rasa takut, tidak. Kami tidak takut kecuali kepada Allah.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Tehran Times


