Presiden Republik Islam Iran Masoud Pezeshkian bersama jajaran anggota pemerintahannya melakukan ziarah ke makam Imam Khomeini di Tehran untuk memperbarui janji setia mereka terhadap prinsip-prinsip pendiri Revolusi Islam tersebut. Kegiatan ini dilaksanakan bertepatan dengan dimulainya peringatan “Sepuluh Hari Fajar” yang menandai hari ulang tahun ke-47 kemenangan Revolusi Islam di Iran pada hari Sabtu, 31 Januari 2026. Dalam prosesi tersebut, Masoud Pezeshkian meletakkan karangan bunga dan membacakan Surah Al-Fatihah sebagai bentuk penghormatan serta penegasan kembali komitmen pemerintahannya terhadap nilai-nilai perjuangan mendiang Imam Khomeini dan para syuhada.
Dalam pidatonya setelah upacara janji setia tersebut, Presiden Masoud Pezeshkian menyampaikan peringatan keras mengenai upaya pihak luar yang mencoba memanfaatkan protes rakyat untuk memicu konflik internal yang mengancam stabilitas negara. Ia mengungkapkan bahwa perkembangan terbaru menunjukkan adanya upaya terorganisir untuk menghasut fitnah dan merusak keamanan nasional. Masoud Pezeshkian secara spesifik menunjuk entitas Zionis dan para pendukung Baratnya sebagai pihak yang terus berupaya memecah belah dan memperlemah Iran dengan cara menunggangi tuntutan sosial masyarakat yang sah agar berubah menjadi aksi kekerasan.
Masoud Pezeshkian menjelaskan bahwa pihak-pihak musuh tersebut berusaha menyeret massa ke arah tindakan sabotase, pembunuhan, serta perusakan fasilitas publik, termasuk serangan terhadap pasukan militer dan pusat layanan warga. Ia menegaskan bahwa praktik-praktik semacam itu sama sekali tidak sesuai dengan prinsip dan norma protes sipil. Meskipun demikian, Masoud Pezeshkian tetap menekankan bahwa mendengarkan suara dan tuntutan pengunjuk rasa adalah tanggung jawab utama otoritas pemerintah. Ia berpendapat bahwa pelayanan yang tulus kepada rakyat merupakan garis pertahanan pertama dalam membendung skema musuh yang ingin merobek jalinan sosial Iran melalui penyebaran kebencian dan kekacauan.
Dari Yaman, Wakil Menteri Luar Negeri pemerintah Sana’a, Abdul Wahid Abu Ras, turut memberikan peringatan terhadap potensi serangan militer yang mungkin diluncurkan oleh Donald Trump terhadap Iran. Abdul Wahid Abu Ras menyatakan bahwa setiap upaya penyerangan tersebut dipastikan akan menemui kegagalan dan kekalahan telak. Menurutnya, penargetan terhadap Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) oleh Amerika Serikat justru mencerminkan betapa efektifnya kekuatan ini dalam membendung “proyek destruktif Zionis” di kawasan Asia Barat.
Abdul Wahid Abu Ras menegaskan bahwa IRGC dan Republik Islam Iran secara umum adalah kekuatan yang tidak dapat dipatahkan, sementara pihak musuh dinilai terlalu lemah untuk bisa meruntuhkan keteguhan tersebut. Ia juga menuduh kekuatan Barat sengaja berusaha menjaga kekuatan negara-negara Arab dan Islam agar tetap lemah sehingga mudah dijadikan alat untuk menjalankan agenda asing di kawasan. Pernyataan tegas dari Sana’a ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan ancaman operasi militer yang terus dilontarkan oleh Gedung Putih terhadap Tehran.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Anadolu Agency

