Asisten Politik Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mohammad Akbarzadeh mengumumkan pada Selasa, 27 Januari 2026, bahwa Iran kini menerima data pemantauan Selat Hormuz secara langsung melalui udara, permukaan, dan bawah air. Dalam pernyataannya yang merespons ancaman militer dari sejumlah pejabat Amerika Serikat, Mohammad Akbarzadeh menegaskan bahwa keamanan di kawasan strategis ini sepenuhnya bergantung pada keputusan Teheran. Beliau menyatakan bahwa meskipun Republik Islam tidak mencari peperangan, negara tersebut berada dalam kesiapan penuh untuk menghadapi musuh, dan jika perang dipaksakan, maka respons Iran akan jauh lebih menentukan dibandingkan sebelumnya.
Kesiapan pertahanan Iran, terutama di bidang pertahanan udara, dilaporkan berada pada tingkat yang sangat tinggi. Mohammad Akbarzadeh menunjukkan bahwa seluruh komandan senior dan pejabat tinggi negara, termasuk Mohammad Bagher Qalibaf, Ali Larijani, Masoud Pezeshkian, Mohammad Pakpour, dan Abdolrahim Mousavi, telah menegaskan posisi seragam bahwa dalam skenario perang, tidak akan ada kemunduran meski hanya satu milimeter, dan Iran akan terus maju. Beliau mengungkapkan bahwa manajemen Selat Hormuz telah beralih dari metode tradisional menuju sistem yang sepenuhnya cerdas, yang memungkinkan Iran menentukan kapal mana yang diizinkan melintas berdasarkan data real-time, terlepas dari bendera negara mana yang dikibarkan.
Lebih lanjut, Mohammad Akbarzadeh memberikan peringatan serius mengenai dampak ekonomi global. Beliau menyatakan bahwa Iran tidak ingin ekonomi dunia dirugikan, namun Amerika Serikat serta sekutunya tidak akan mendapatkan keuntungan dari perang yang mereka mulai. Beliau memperingatkan bahwa jika selama ini jalur tersebut menjamin keamanan pangan, energi, dan perdagangan mereka, maka kini Iran mampu mengubah keamanan tersebut menjadi ancaman bagi mereka. Selain itu, negara-negara tetangga telah diinformasikan bahwa meskipun mereka adalah sekutu, jika wilayah udara, darat, atau perairan mereka digunakan untuk menyerang Iran, maka negara tersebut akan dianggap sebagai negara musuh. Respons dari negara-negara tetangga dilaporkan positif, dan mereka telah menyampaikan kekhawatiran ini kepada Amerika Serikat dan Israel.
Sementara itu, juru bicara pemerintah Iran Fatemeh Mohajerani dalam konferensi pers mingguannya menegaskan bahwa Republik Islam siap menghadapi segala ancaman dengan menjaga martabat nasional, persatuan, dan kepemimpinan yang terpadu. Beliau menjelaskan bahwa pendekatan pemerintah tetap berbasis pada diplomasi, termasuk kemungkinan negosiasi dengan Amerika Serikat, namun tetap mempertahankan kesiapan militer penuh serta hak-hak Iran untuk melindungi kepentingan nasional. Fatemeh Mohajerani menekankan bahwa semua opsi ada di atas meja dan pemerintah berkomitmen penuh untuk mengatasi setiap tantangan di masa depan secara tegas.
Sejalan dengan pernyataan pemerintah, seorang pejabat militer senior di Markas Pusat Khatam al-Anbiya memberikan peringatan keras terhadap konsekuensi dari ancaman dan disinformasi media Amerika Serikat serta Israel. Beliau menekankan bahwa setiap ancaman terhadap keamanan nasional dipantau sejak tahap awal dan keputusan yang tepat akan diambil dengan membebankan tanggung jawab penuh kepada pihak penghasut. Beliau menjelaskan bahwa upaya untuk melakukan operasi terbatas dan cepat terhadap Iran didasarkan pada penilaian yang salah, karena skenario apa pun yang mengandalkan elemen kejutan akan segera dipatahkan. Pembangunan kekuatan militer Amerika Serikat, termasuk kapal induk di kawasan, dinilai tidak akan menjadi faktor pencegah namun justru menjadi target yang mudah bagi kemampuan pertahanan laut Iran yang telah berhasil merumuskan persamaan militer yang kuat di Teluk dan Laut Oman.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: i24NEWS


