Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa serangkaian operasi teroris yang mengguncang wilayahnya baru-baru ini bukanlah aksi spontan, melainkan bagian dari proyek terarah yang mendapatkan dukungan penuh dari intelijen, media, serta operasional Amerika Serikat dan Zionis. Dalam sebuah artikel yang dipublikasikan di surat kabar Sedaye Iran pada Rabu, 21 Januari 2026, Abbas Araqchi menekankan bahwa bukti dokumenter dan pernyataan resmi telah membuktikan adanya keterlibatan asing yang sangat dalam. Menurutnya, proses pelatihan, persenjataan, hingga penghasutan untuk melakukan kekerasan telah memberikan dimensi berbahaya yang melanggar hukum internasional, sehingga tindakan tersebut dikategorikan sebagai intervensi terorganisir yang membawa konsekuensi hukum serta politik bagi para pendukungnya.
Abbas Araqchi juga menyoroti ancaman yang dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Pemimpin Besar Revolusi Islam Sayyid Ali Khamenei dan Republik Islam Iran. Ia memastikan bahwa ancaman tersebut tanpa ragu akan memicu konsekuensi hukum dan politik yang luas di tingkat global. Kementerian Luar Negeri Iran saat ini tengah bekerja keras mendokumentasikan setiap bentuk intervensi dan tindakan bermusuhan tersebut, serta telah menyelesaikan persiapan hukum yang diperlukan untuk mengajukan gugatan di hadapan otoritas yudisial yang kompeten. Abbas Araqchi menegaskan bahwa pihaknya tidak akan membiarkan dukungan terhadap terorisme menjadi praktik tanpa beban biaya dalam sistem internasional, sekaligus memastikan pemerintah Amerika Serikat bertanggung jawab penuh secara hukum atas kobaran perang ini.
Kekacauan yang melanda beberapa kota di Iran selama sepekan terakhir awalnya dipicu oleh demonstrasi warga yang memprotes memburuknya kondisi ekonomi dan kehidupan. Namun, aspirasi tersebut dengan cepat dieksploitasi oleh perusuh bersenjata dan pembunuh bayaran yang disokong oleh pihak eksternal, terutama Mossad dan Amerika Serikat, dengan tujuan akhir untuk menyulut kekacauan total dan menggulingkan pemerintahan sah. Hal ini dikonfirmasi oleh berbagai pejabat tinggi Iran yang melihat pola sabotase terorganisir di balik aksi massa tersebut. Menanggapi situasi ini, Korps Garda Revolusi Islam di Provinsi Kerman, wilayah tenggara Iran, melaporkan telah berhasil membongkar 12 sel teroris dan spionase yang berafiliasi dengan poros Amerika-Zionis pada Selasa, 20 Januari 2026.
Dalam operasi pembersihan tersebut, Garda Revolusi menangkap 14 orang yang diidentifikasi sebagai pemimpin kelompok teroris. Dari tangan mereka, petugas menyita berbagai barang bukti mulai dari senjata api, bom molotov, hingga obat-obatan penenang dan narkoba yang digunakan untuk memicu keberanian para perusuh. Selain itu, otoritas keamanan mengungkap keberadaan jaringan aktif elemen Baha’i di Provinsi Kerman yang menjalin kontak langsung dengan pihak-pihak di Amerika Serikat dan wilayah pendudukan Israel. Sejumlah besar senjata tajam dan uang tunai yang sedianya akan didistribusikan kepada tim bayaran di markas jaringan tersebut turut diamankan. Sementara itu, di Provinsi Lorestan, Iran bagian barat, kantor hubungan masyarakat Garda Revolusi melaporkan penangkapan terhadap 134 orang yang terlibat dalam aksi terorisme dan kerusuhan bersenjata. Hingga saat ini, lembaga keamanan Iran terus memburu elemen-elemen kunci dan pemimpin kerusuhan di berbagai provinsi guna memutus total koneksi mereka dengan agen asing seperti Mossad.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Press TV



