Skip to main content

Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, menyatakan pada hari Sabtu bahwa rakyat Iran telah “menghancurkan tulang punggung fitnah”. Beliau menambahkan bahwa rakyat telah menyampaikan kata putus yang final melalui persatuan mereka. Dalam pidato memperingati momen Al-Mab’ath, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei mengecam Presiden AS Donald Trump sebagai seorang “penjahat” atas kerugian, kerusakan, dan fitnah yang ditimpakan kepada bangsa Iran. Beliau menunjukkan bahwa Amerika Serikat mendukung kerusuhan baru-baru ini di Iran sebagai pembukaan bagi operasi yang lebih besar yang ingin mereka laksanakan.

Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menegaskan bahwa fitnah terbaru ini diarahkan oleh Amerika Serikat dengan tujuan akhir untuk menguasai Iran. Beliau mencatat bahwa kerusuhan tersebut berhasil dipadamkan oleh kesadaran dan upaya rakyat Iran, para pejabat, serta elemen-elemen masyarakat yang bertanggung jawab. Hal yang membedakan putaran fitnah ini dari yang sebelumnya adalah keterlibatan langsung Presiden AS yang secara publik mendukung dan mendorong kerusuhan, sembari mengancam akan melakukan kekerasan terhadap Republik Islam. Menurut beliau, hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa kerusuhan tersebut adalah fitnah yang dihasut oleh Amerika. Berdasarkan pengalaman selama 50 tahun, beliau menyatakan secara tegas bahwa tujuan Amerika adalah untuk “menelan” Iran.

Lebih lanjut, beliau mencatat bahwa AS tidak dapat menoleransi keberadaan negara seperti Iran dengan lokasi strategis, kemampuan ilmiah, kemajuan teknologi, dan kebijakan independennya. Dominasi Amerika telah dibongkar di bawah kepemimpinan Imam Khomeini, namun sejak hari pertama, AS terus berupaya memulihkan hegemoni politik dan ekonominya atas Iran. Ayatullah Sayyid Ali Khamenei juga menyoroti bagaimana Amerika Serikat menggambarkan para pelaku pembakaran properti, perusak, dan penghasut kerusuhan di jalanan sebagai “rakyat Iran”. Beliau menyebut hal ini sebagai fitnah besar terhadap bangsa Iran dan tindakan tersebut merupakan sebuah kejahatan.

Dalam konteks ini, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei mengonfirmasi bahwa ratusan gembong (ringleaders), perusuh, dan penyabot telah ditangkap. Mereka telah diinstruksikan tentang cara menyebarkan ketakutan, melakukan perusakan, menyabotase ketertiban umum, serta diberikan dukungan finansial yang besar. Individu-individu tersebut sebelumnya mempresentasikan diri mereka sebagai pemimpin. Beliau mengakhiri pidatonya dengan penegasan bahwa Iran tidak memimpin negara menuju perang, tetapi tidak akan menunjukkan kelunakan terhadap penjahat yang beroperasi di dalam negeri.

Di sisi lain, komando kepolisian provinsi Gilan mengumumkan penangkapan 50 individu yang diidentifikasi sebagai pemimpin kerusuhan bersenjata di provinsi tersebut. Jaksa Penuntut Umum Provinsi Khorasan Razavi, Hassan Hemmati-Far, juga mengonfirmasi penahanan lebih dari 10 orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan personel keamanan di Jalan Tabarsi, Mashhad. Ia juga melaporkan penangkapan 22 pemimpin kerusuhan, 50 penyabot yang terlibat pembakaran properti publik dan pribadi, serta 38 individu yang dituduh melakukan kekerasan terhadap warga sipil. Hassan Hemmati-Far menekankan bahwa yudisial akan mengambil tindakan tegas dan tanpa kompromi terhadap semua yang terlibat dalam kerusuhan.

Berdasarkan laporan agensi berita Tasnim, pasukan keamanan telah menangkap sekitar 3.000 individu yang terkait dengan kelompok teroris dan terlibat dalam kerusuhan bersenjata di berbagai provinsi. Gelombang kerusuhan ini telah mengakibatkan banyak korban jiwa baik di kalangan warga sipil maupun pasukan keamanan, serta kerusakan luas pada properti. Otoritas Iran menyatakan banyak dari mereka yang ditangkap diketahui menjalin kontak dengan entitas asing, termasuk Mossad, dan dituduh memainkan peran kunci dalam mengorganisir serta menghasut kekerasan untuk mendestabilisasi negara.

Sementara itu, ketegangan regional tetap tinggi dengan laporan dari Channel 13 bahwa status siaga tinggi di seluruh wilayah pendudukan Israel diperkirakan akan berlangsung selama beberapa minggu. Israel dan Amerika Serikat berada dalam kewaspadaan tinggi menyusul ancaman yang diarahkan kepada Iran, termasuk ancaman aksi militer serta tindakan intervensi selama kerusuhan. Iran sendiri telah bersumpah untuk memberikan respons yang menghancurkan setiap agresi atas kedaulatannya.

Namun, Presiden AS Donald Trump akhirnya mundur dari rencana serangan terhadap Iran. Radio Tentara Israel melaporkan bahwa pejabat Pentagon khawatir akan kurangnya kekuatan tempur AS di Timur Tengah yang cukup untuk menangkis respons balasan Iran jika AS melakukan aksi militer. Situs berita Israel, Zman, menggambarkan dilema Trump sebagai hal yang “jauh dari sederhana”, di mana peringatan-peringatan yang ada menunjukkan bahwa serangan tersebut dapat berkembang menjadi konfrontasi skala penuh. Media Israel bahkan menggunakan istilah “TACO” (Trump Always Chickens Out) untuk mengkritik pengambilan keputusan Trump yang dianggap ragu-ragu di bawah tekanan daripada menunjukkan kepemimpinan yang tegas.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: BBC