Skip to main content

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baghaei, menegaskan bahwa klaim negara-negara Eropa dan Amerika Serikat mengenai kepedulian terhadap hak asasi manusia di Iran hanyalah propaganda palsu. Dalam konferensi pers yang diadakan pada Minggu, 18 Januari 2026, ia menekankan bahwa berlanjutnya sanksi yang mencekik kehidupan warga Iran—terutama di sektor medis dan pengobatan—secara otomatis membatalkan setiap klaim kepedulian kemanusiaan dari Barat. Baghaei menjelaskan secara detail bahwa peristiwa yang terjadi pada pertengahan Desember lalu sebenarnya dimulai sebagai pertemuan damai, sebelum akhirnya dihasut menjadi kekerasan oleh elemen teroris terlatih. Ia menyayangkan sikap beberapa negara Eropa yang tetap memimpin kampanye politik dan media melawan Iran, bahkan membawa isu ini ke Dewan Keamanan PBB, meskipun mereka mengetahui fakta adanya intervensi terorisme tersebut.

Lebih lanjut, Baghaei mempertanyakan kredibilitas wacana hak asasi manusia Eropa yang ia anggap munafik. Ia menyoroti ketiadaan kecaman dari negara-negara Eropa terhadap kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Gaza, namun mereka sangat agresif melakukan tekanan terhadap Iran. Terkait hubungan dengan Amerika Serikat, Baghaei membeberkan bahwa Washington adalah pihak yang bertanggung jawab atas eskalasi di kawasan. Ia menyatakan bahwa retorika diplomasi Amerika Serikat sering kali hanya merupakan kedok untuk memaksakan kehendak dan memeras konsesi dari pihak lain. Namun, ia menegaskan bahwa Iran saat ini berada dalam posisi kuat dan mampu menangkal segala bentuk agresi, serta tidak akan membiarkan sedikit pun pelanggaran terhadap kedaulatan dan keamanan nasionalnya.

Mengenai aspek internasional, Baghaei memastikan bahwa komunikasi antara Iran dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) tetap berjalan normal dan berkelanjutan. Hal ini dikarenakan status Iran sebagai anggota Perjanjian Non-Proliferasi (NPT) yang berkomitmen pada perjanjian perlindungan. Ia menegaskan hak sah Iran untuk menggunakan energi nuklir demi tujuan damai dan menyatakan bahwa negosiasi sepihak tidak akan membuahkan hasil. Terkait hubungan dengan Denmark, ia mengaku terkejut dengan sikap garis keras Kopenhagen di Dewan Keamanan PBB, padahal Iran tetap menghormati kedaulatan Denmark serta memiliki posisi yang jelas dalam mendukung integritas wilayah mereka, termasuk terkait isu Greenland dan Islandia. Ia memperingatkan agar negara-negara Eropa tidak menggunakan hubungan dengan Iran sebagai alat untuk memperbaiki keretakan diplomatik mereka dengan Amerika Serikat.

Dari sisi keamanan internal, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melalui markas Fajr di Provinsi Fars mengumumkan keberhasilan operasi intelijen yang presisi. Pada Sabtu malam, otoritas keamanan menangkap 154 pemimpin utama dan tokoh berpengaruh yang menjadi dalang kerusuhan di wilayah selatan Iran tersebut. Salah satu pemimpin utama yang ditangkap terbukti memiliki hubungan langsung dengan badan intelijen Israel, Mossad. Pelaku ini memiliki misi khusus untuk menjalankan operasi intelijen teknis pada lokasi dan tokoh keamanan strategis, serta bertugas menyeret protes damai masyarakat Arab ke dalam aksi kekerasan dan terorisme dengan imbalan sejumlah uang. IRGC menegaskan bahwa operasi identifikasi dan pengejaran terhadap sisa-salaman elemen pengacau masih terus berlangsung dengan koordinasi otoritas yudisial.

Di tengah tekanan keamanan dan politik tersebut, situasi ekonomi di ibu kota mulai menunjukkan ketangguhan yang nyata. Pasar-pasar di Teheran dilaporkan telah pulih sepenuhnya dan aktif menarik pelanggan, seolah-olah aktivitas perdagangan tidak pernah terhenti sebelumnya. Pergerakan di pusat-pusat ekonomi terpantau sangat lancar dan normal. Laporan lapangan dari televisi Al-Alam mendokumentasikan aktivitas yang sangat sibuk di Pasar Tajrish, Teheran Utara. Di bagian pasar yang didedikasikan untuk buah, sayuran, dan kebutuhan pokok tersebut, warga Iran terlihat berbelanja dengan normal tanpa adanya gangguan. Pemandangan ini menjadi bukti visual yang membantah narasi kegagalan sistemik dan menunjukkan bahwa masyarakat Iran telah kembali ke ritme kehidupan harian mereka di bawah stabilitas keamanan yang terkendali.

Ismail Baghaei juga mengklarifikasi mengenai saluran komunikasi diplomatik yang tetap terjaga. Hubungan resmi dengan Washington dilakukan melalui Kantor Kepentingan AS di Teheran yang diawasi oleh Kedutaan Swiss, sementara Kepentingan Iran di Washington diawasi oleh Pakistan. Ia juga menanggapi isu mengenai penetapan Pasukan Quds sebagai organisasi teroris oleh Argentina atau negara lain, dengan menyatakan bahwa tindakan tersebut akan mendapatkan tanggapan yang setimpal. Terakhir, ia membantah rumor penutupan kedutaan besar di Iran dan menegaskan bahwa upaya apa pun untuk melemahkan stabilitas Iran tidak akan berhasil berkat persatuan dan kohesi rakyat Iran yang tetap solid di tengah berbagai tekanan eksternal.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: WANA