Skip to main content

Media Ibrani melaporkan bahwa seorang tentara dari Brigade Givati menjalin kontak dengan badan intelijen Iran, sebuah kasus yang digambarkan sebagai salah satu skandal spionase paling serius yang pernah diselidiki hingga saat ini. Saluran berita “i24 News” menjelaskan, mengutip sumber keamanan, bahwa tentara dalam dinas reguler tersebut merupakan seorang kombatan di Brigade Givati yang baru bergabung sedikit lebih dari setahun dan telah ditahan selama sekitar empat bulan. Perintah larangan publikasi diberlakukan secara komprehensif atas kasus ini sejak penangkapannya pada akhir September melalui investigasi gabungan Shin Bet, kepolisian, dan unit investigasi polisi militer, serta melibatkan kementerian perang.

Diketahui bahwa sejak Juli 2025, tentara tersebut menjalin komunikasi dengan intelijen Iran dan menjalankan serangkaian tugas keamanan demi imbalan uang. Tugas tersebut mencakup pengiriman foto dan video situs-situs sensitif, dokumentasi internal pangkalan militer Israel, hingga informasi mendalam mengenai metode tempur serta jenis persenjataan dan amunisi yang digunakan oleh militer Israel. Atas tindakan tersebut, jaksa militer telah mengajukan dakwaan berat yang mencakup kontak dengan agen asing, menyerahkan informasi kepada musuh, penyamaran, serta upaya menghalangi proses peradilan.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan Iran, Aziz Nasirzadeh, membongkar rincian plot Amerika-Barat dalam peristiwa baru-baru ini dan menegaskan bahwa pihak musuh telah menetapkan “harga” tertentu untuk setiap aksi pembunuhan dan sabotase selama kerusuhan. Dalam pertemuan dengan para atase militer asing pada Kamis, 15 Januari 2026, Aziz Nasirzadeh menjelaskan bahwa Teheran memiliki informasi akurat mengenai pembentukan markas bagi kelompok separatis dan teroris oleh Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya untuk mengelola rencana pemecah belah negara.

Ia bahkan mengungkapkan adanya pusat dialog khusus untuk memandu teroris separatis agar setiap wilayah di Iran menyusun konstitusi sendiri. Rencana ini didukung dengan penyelundupan senjata serta bantuan finansial dan logistik yang semuanya telah terdokumentasi melalui pemantauan intelijen. Menteri Pertahanan Iran tersebut mengungkapkan bahwa dalam sebuah pertemuan di negara kawasan, agen intelijen AS dan beberapa negara Barat mempresentasikan rencana peningkatan anggaran untuk memicu kekacauan di Iran.

Pertemuan tersebut bahkan secara spesifik menentukan bayaran untuk setiap aksi kejahatan: 500 juta toman Iran untuk setiap pembunuhan, 200 juta toman untuk pembakaran kendaraan, 80 juta toman untuk pembakaran kantor polisi, dan 15 juta toman untuk setiap aksi gangguan keamanan lainnya. Ia mengonfirmasi bahwa otoritas Iran telah menangkap seorang pelaku yang terbukti menerima 900 juta toman sebagai imbalan atas serangkaian aksi sabotase tersebut.

Aziz Nasirzadeh memaparkan bahwa protes yang semula dimulai secara damai oleh para pedagang pasar Teheran pada 29 Desember berubah menjadi kekerasan dan terorisme pada 8 dan 9 Januari akibat pernyataan intervensi asing, khususnya dari Donald Trump. Situasi akhirnya mereda pada 12 Januari berkat pawai jutaan rakyat Iran. Ia menekankan bahwa musuh salah besar jika mengira dunia bisa diatur melalui ideologi ala ISIS. Ia juga mengecam ancaman pembunuhan terhadap pedagang yang menolak menutup toko mereka sebagai tindakan yang melanggar budaya kuat bangsa Iran.

Sebagai penutup, ia menyatakan bahwa transisi geopolitik saat ini menunjukkan keruntuhan hegemoni Amerika Serikat menuju sistem multipolar. Dalam era transformasi ini, Republik Islam Iran secara tegas menyatakan penolakannya terhadap unilateralisme AS, pendudukan Zionis, serta segala bentuk aksi terorisme, sekaligus meyakini kemampuan pemerintah dan rakyatnya dalam menjaga stabilitas negara.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Press TV