Tidak ada yang membuat Presiden Amerika Serikat Donald Trump begitu bergairah selain minyak, gas, perdagangan, dan pasar saham. Ia juga sangat tertarik pada emas, logam mulia, serta berbagai kesepakatan bisnis dan spekulasi. Sebagai pengusaha berpengalaman dan pengembang real estat sukses, ia memahami wilayah-wilayah kaya. Ia terus mencari kekayaan bawah tanah dan membuka jalan untuk mengeksploitasi sumber daya negara lain. Trump menekan dan menyita aset mereka demi keuntungan ekonomi. Seperti pemangsa di alam liar, ia tahu kapan harus mengincar dan menjebak mangsanya.
Pada masa jabatan pertama (2017-2021), ia memeras negara-negara Teluk dan menguras perbendaharaan mereka melalui kesepakatan triliunan dolar. Kini, ia mengeksploitasi krisis Ukraina dan perangnya dengan Rusia. Pada periode kedua, ia mengaitkan bantuan militer dengan penyerahan mineral berharga milik Ukraina. Trump memaksa Ukraina menyetujui perjanjian tidak seimbang yang menguras kekayaan masa depan mereka. Mineral langka ini sangat dibutuhkan oleh industri militer, teknologi tinggi, dan eksplorasi ruang angkasa Amerika Serikat.
Trump juga berulang kali menyatakan niatnya untuk mengendalikan Jalur Gaza. Ia berencana membangunnya kembali menjadi “Monaco baru” atau Riviera di Timur. Namun, fokusnya bukan pada penderitaan rakyat Gaza yang hancur akibat senjata Amerika Serikat. Meski serangan tersebut menyebabkan ratusan ribu warga Palestina menjadi korban, pemerintahannya tidak peduli. Trump tidak menekan Israel untuk menghentikan pengepungan atau pembunuhan di sana.
Fokus utama Trump dan perusahaan energi Amerika Serikat adalah cadangan gas alam strategis di perairan Gaza. Penelitian menunjukkan adanya cadangan gas bernilai triliunan meter kubik di wilayah tersebut. Kekayaan ini cukup untuk memasok Eropa dan Amerika Serikat. Potensi besar inilah yang mengubah kebijakan di kawasan tersebut. Trump mempercepat rencananya untuk menguasai sumber daya alam fantastis yang berada di bawah kendali rakyat Gaza dan perlawanannya. Laporan pakar menyebutkan bahwa ia akan terus memaksakan rencana perdamaian demi mengamankan gas dan kekayaan, bukan demi kemanusiaan.
Ambisi serupa juga diterapkan terhadap Venezuela. Presiden Donald Trump memutuskan untuk memperketat pengepungan sebelum melancarkan serangan ke Caracas untuk menangkap Presiden Nicolas Maduro. Ia marah karena Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia namun menentang kebijakan Amerika Serikat. Pemerintah Maduro mengontrol produksinya sendiri dan lebih memilih bersekutu dengan Rusia, Cina, Korea Utara, serta Iran. Trump ingin segera menggulingkan Maduro agar pemimpin berikutnya mau bersekutu dengan Amerika Serikat.
Ini adalah wajah buruk kapitalisme Amerika Serikat yang didorong oleh keserakahan dan keangkuhan. Kebijakan rasis ini serupa dengan pemusnahan penduduk asli Amerika ratusan tahun silam demi menjarah sumber daya mereka. Namun, situasi kini telah berubah. Kekuatan Amerika Serikat tidak akan abadi, dan dunia mulai menolak dominasi sepihak atas sumber daya serta kontrol terhadap negara-negara lain.
Sumber opini: Al-Alam
Sumber gambar: Times of Israel



