Skip to main content

Wakil Menteri Luar Negeri Iran sekaligus Kepala Pusat Studi Politik dan Internasional, Saeed Khatibzadeh, menegaskan bahwa negaranya kini tengah menghadapi perang ekonomi komprehensif yang dirancang secara sistematis untuk melemahkan kedaulatan nasional. Menurut Khatibzadeh, sanksi-sanksi yang dijatuhkan terhadap Iran bukan sekadar instrumen tekanan politik, melainkan inti dari sebuah strategi perang yang bertujuan menciptakan konfrontasi internal antara rakyat dan negara. Ia menyerukan kewaspadaan kolektif dan menekankan bahwa strategi Iran saat ini melibatkan upaya ganda, yakni melakukan diplomasi untuk mencabut sanksi sekaligus memperkuat kapabilitas domestik serta mereformasi tata kelola pemerintahan guna memitigasi dampak tekanan eksternal tersebut.

Khatibzadeh menjelaskan bahwa dunia saat ini sedang berada dalam periode ketidakpastian yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana kekuatan besar yang selama ini mengeklaim diri sebagai pembela status quo justru bertindak sebagai kekuatan regresif yang melanggar aturan hukum internasional. Ia menyoroti fakta bahwa Iran diserang secara militer justru saat tengah terlibat dalam proses negosiasi yang sah. Padahal, badan intelijen Amerika Serikat sendiri dan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) telah secara eksplisit mengonfirmasi bahwa tidak ada penyimpangan dalam program nuklir damai Iran. Hal ini membuktikan bahwa agresi terhadap Iran sebenarnya bukan disebabkan oleh isu nuklir, melainkan bagian dari proyek besar AS dan sekutu regionalnya untuk membentuk kembali tatanan global berdasarkan hegemoni kekuatan.

Dalam menghadapi tekanan ini, Teheran menyatakan telah menunjukkan kemauan dan kemampuan tempur yang nyata untuk merespons agresor. Khatibzadeh memaparkan kegagalan strategis pihak penyerang yang dapat dilihat dari perubahan narasi Presiden AS, dari yang awalnya menuntut “penyerahan tanpa syarat” di hari-hari pertama serangan, menjadi permohonan “gencatan senjata tanpa syarat” pada hari kedua belas konflik. Baginya, transisi ini merupakan bukti kegagalan kekuatan militer asing untuk menundukkan kemauan nasional Iran. Ia menegaskan bahwa dalam iklim ketidakpastian ini, Iran tidak memiliki ruang untuk melakukan kesalahan dan berkewajiban membela kepentingan nasionalnya dengan kebijaksanaan serta ketahanan yang penuh.

Dukungan internasional terhadap kedaulatan Iran juga datang dari China, yang melalui juru bicara Kementerian Luar Negerinya, Lin Jian, menekankan perlunya mengakhiri campur tangan asing dalam urusan domestik Iran. Beijing menegaskan bahwa kebijakan luar negerinya fokus pada pembangunan kemitraan strategis alih-alih membentuk aliansi militer konvensional. Lin Jian menyampaikan harapan agar pemerintah dan rakyat Iran mampu mengatasi krisis saat ini dan menjaga stabilitas nasional mereka. China berkomitmen untuk bekerja sama dengan komunitas internasional dalam menegakkan Piagam PBB, menjaga keadilan global, serta mempromosikan langkah-langkah konstruktif demi tercapainya perdamaian yang berkelanjutan di kawasan Timur Tengah.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Defapress