Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) secara resmi mengonfirmasi bahwa pasukan pendudukan Israel (IOF) melepaskan tembakan di dekat posisi penjaga perdamaian PBB saat mereka sedang melakukan patroli di Lebanon Selatan pada Jumat, 2 Januari 2026. Insiden ini menandai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701. Dalam pernyataan resminya, UNIFIL melaporkan dua insiden terpisah di dekat kota Kfar Chouba; patroli pertama mendapati sekitar 15 tembakan senjata ringan jatuh hanya berjarak 50 meter dari posisi mereka, dan kurang dari 20 menit kemudian, patroli kedua dihujani sekitar 100 tembakan senapan mesin dari jarak yang sama.
UNIFIL memastikan bahwa arah tembakan dalam kedua kasus tersebut berasal dari posisi militer Israel yang terletak di selatan Garis Biru (Blue Line). Padahal, misi PBB telah mengoordinasikan jadwal patroli tersebut kepada otoritas Israel sesuai dengan prosedur standar di zona sensitif. Segera setelah serangan terjadi, UNIFIL mengirimkan permintaan penghentian tembakan melalui saluran komunikasi penghubung. Insiden pada hari Jumat ini bukanlah kejadian luar biasa, melainkan bagian dari pola serangan sistematis militer Israel terhadap personel PBB sepanjang tahun 2025.
Rekam jejak agresi Israel terhadap UNIFIL mencatat serangkaian insiden berbahaya, termasuk penembakan tank Merkava ke arah konvoi PBB di Sarda pada Desember 2025, penembakan senapan mesin berat yang mendarat hanya lima meter dari penjaga perdamaian pada November 2025, hingga penggunaan drone untuk menjatuhkan granat di dekat patroli di Kfar Kila dan Marwahin. Bahkan pada awal Januari 2025, buldozer Israel secara terang-terangan menghancurkan penanda Garis Biru (blue barrel) dan menara observasi Tentara Lebanon di samping posisi UNIFIL di Labbouneh. Tindakan-tindakan ini secara konsisten dikecam oleh PBB sebagai pelanggaran berat terhadap kedaulatan Lebanon.
Situasi keamanan semakin rapuh karena pelanggaran gencatan senjata yang terus dilakukan oleh Israel sejak kesepakatan damai 27 November 2024. UNIFIL mencatat lebih dari 10.000 pelanggaran gencatan senjata oleh Israel, yang mencakup 7.500 pelanggaran ruang udara oleh drone dan jet tempur, serta hampir 2.500 pelanggaran darat di utara Garis Biru. Para pakar hak asasi manusia PBB memperingatkan bahwa serangan udara dan drone Israel terus menghantam kendaraan sipil, rumah, dan lahan pertanian dengan berbagai dalih, yang secara efektif menyabotase upaya stabilisasi kawasan dan menghalangi pengerahan penuh Tentara Nasional Lebanon di wilayah selatan.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Anadolu Agency


