Ketegangan geopolitik di Amerika Latin mencapai titik didih pada Sabtu, 3 Januari 2026, setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangkaian serangan udara besar-besaran yang menyasar jantung ibu kota Venezuela, Caracas. Koresponden Al-Mayadeen melaporkan setidaknya delapan ledakan dahsyat mengguncang pusat kota, dibarengi dengan deru jet tempur yang sangat intens di wilayah udara ibu kota. Serangan tersebut tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik pada struktur militer, tetapi juga menyebabkan pemutusan aliran listrik secara total dan gangguan layanan internet di berbagai distrik vital di Caracas.
Serangan udara ini diarahkan ke sejumlah titik strategis pertahanan nasional, termasuk kompleks militer utama Fuerte Tiuna yang menjadi pusat komando militer negara, barak La Carlota, serta Bandara Ighiroti. Selain wilayah ibu kota, serangan juga meluas ke area pesisir seperti La Guaira yang berdekatan dengan bandara internasional serta pelabuhan laut terbesar di Venezuela. Media lokal melaporkan ledakan hebat di pelabuhan tersebut, sementara wilayah lain seperti Negroti, Miranda, dan Aragua turut menjadi sasaran bombardir misil AS.
Presiden Nicolas Maduro merespons agresi ini dengan segera mengaktifkan seluruh lini pertahanan nasional dan menetapkan status keadaan darurat di seluruh wilayah kedaulatan Venezuela. Dalam pernyataannya, Maduro menegaskan bahwa rakyat dan pemerintah yang sah akan berdiri tegak mempertahankan kedaulatan mereka dari apa yang ia sebut sebagai upaya imperialis untuk mencuri kekayaan sumber daya alam, terutama minyak. Ia menuding bahwa klaim Amerika Serikat mengenai operasi pemberantasan perdagangan narkoba hanyalah kedok untuk memaksakan perubahan rezim dan menguasai cadangan minyak Venezuela yang melimpah. “Topeng mereka telah jatuh,” tegas Maduro, merujuk pada penyitaan kapal tanker minyak Venezuela oleh Washington baru-baru ini sebagai bukti nyata niat pencurian kekayaan negara.
Eskalasi militer ini merupakan realisasi dari ancaman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang sebelumnya telah mengerahkan armada angkatan laut ke Laut Karibia dan secara terbuka menyatakan bahwa kekuasaan Nicolas Maduro akan segera berakhir. Sejak akhir tahun 2025, intelijen dan media internasional telah memperingatkan adanya beberapa skenario serangan yang disiapkan oleh pemerintahan Trump untuk menundukkan Venezuela secara paksa. Tindakan AS ini dipandang oleh Caracas sebagai upaya memecah kemerdekaan politik mereka melalui perang kolonial modern yang melibatkan aliansi dengan kelompok oligarki lokal.
Di tingkat regional, Presiden Kolombia Gustavo Petro memberikan tanggapan cepat dengan mengaktifkan pusat komando terpadu di kota perbatasan Cúcuta untuk mengantisipasi krisis kemanusiaan dan migrasi yang mungkin terjadi akibat pengeboman tersebut. Melalui platform X, Petro memperingatkan dunia untuk waspada dan menyebut bahwa serangan misil terhadap Caracas adalah tindakan yang membahayakan perdamaian kawasan. Ia menyerukan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Negara-Negara Amerika (OAS) segera melakukan pertemuan darurat guna merespons agresi sepihak ini. Venezuela sendiri menyatakan akan mengajukan pengaduan resmi ke Dewan Keamanan PBB untuk mengutuk pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan hak menentukan nasib sendiri bagi setiap bangsa.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: Al Jazeera



